Lika-liku kehidupanku - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Sudah 3 bulan Dewa bekerja sebagai guru piano. Sebuah keahlian yang dia dapat ketika SMA dulu saat ayahnya masih ada. Dengan keahlian itu dia berusaha menyambung hidup, dan kalau bisa menjadi pianis profesional.

Dalam dinginnya AC ruangan kantor, Dewa menghitung uang yang tersisa untuk bulan ini."Uhh, Tinggal 50 ribu, padahal gajian masih 1 minggu lagi," gumannya sambil memasukkan kembali dompetnya ke saku celana. Kini dia hanya mempunyai 3 murid SD sebagai anak didiknya. Sebuah jumlah yang sangat sedikit.

"Saya harus mendapat tambahan satu orang murid lagi," Dewa beringsut berdiri menuju pelataran kantor. Dia ingin menghabiskan sisa rokoknya yang disimpan tadi, ketika terdengar seseorang menyebut namanya.

"Maaf, Bu. Bisakah saya bertemu dengan Bapak Dewa..?" Dewa menoleh, dilihatnya seorang wanitamuda bertanya kepada sekretaris kantor.

"Ya, saya sendiri," Dewa berjalan mendekati wanita tersebut sambil memasukkan kembali rokoknya.Dilihatnya seorang wanita cantik berumur sama dengan dirinya sekitar 24 tahun. Tinggi 170 cm dan perut yang ramping.

"Saya Dewa, ada yang bisa saya bantu?" diulurkan tangannya.
"Wah kebetulan, saya Wedi, dan saya berniat untuk mengambil les piano pada Bapak."
"Panggil saja saya Dewa, mari ke ruang tamu. Kita akan membicarakan jadwal latihan dan jenis latihan yang ingin anda pelajari," Dewa sungguh bersyukur akan hari itu, kini dia tidak terlalu khawatir akan uang makan sampai akhir bulan. Jika sudah rejeki tidak akan kemana, begitu hatinya berkata. Tanpa disadarinya itulah awal dari perubahan seluruh hidupnya.

MINGGU, 23 MARET 1997

Dewa berada di depan rumah Wedi, hari itu jam 3 sore, ini hari pertama dia akan mengajari Wedi berpiano. Tiada lain niatnya selain memberikan semua ilmu pianonya dan semoga dari pembicaraan Wedi dengan teman-temannya, maka anak didiknya akan bertambah.

Diketuknya pintu rumah, sebuah rumah yang sangat besar dan mewah. "Rumah ini lebih bagus daripada rumahku yang dulu, tapi nggak beda jauh lah.." guman Dewa mengenang masa saat ayahnya masih ada. Tak berapa lama terdengar suara kunci diputar dan pintu dibuka.

"Selamat sore Dewa, mari silakan masuk..!" Wedi memberikan jalan bagi Dewa untuk lewat, lalu dia menutup pintunya kembali.
"Mau minum dulu, atau langsung berlatih..?" tanya Wedi sambil mengunci kembali pintu rumah.
"Langsung aja yuk.!" jawab Dewa yang merasa tidak haus.
Mereka lalu menuju meja piano yang ada di ruang tengah. Dewa membuka cover piano, lalu duduk di kursi piano sambil beringsut memberi tempat pada Wedi.

"Ayo kita mulai.!" kata Dewa, sambil menjelaskan nada-nada yang terdengar dari tuts yang dipijitnya. Setelah berapa lama lalu dia mempersilakan Wedi untuk mencobanya. Terlihat raut ragu di wajah Wedi, lalu dia mencobanya. Terdengar nada-nada yang sangat tak beraturan. Derai tawa segera mengalir dari bibir mereka.

"Tidak apa-apa..! Ini saya tunjukkan lagi..!" Dewa lalu menunjukkan kembali nada-nada yang tadidiperdengarkannya. Tapi bukannya mendengarkan, dia malah memperhatikan wajah Dewa. Sepertinya dia tidak dapat konsentrasi pada pelajaran dari Dewa.

"Kamu ingin saya memainkan sebuah lagu..?" itu jurus yang biasa Dewa lakukan jika anak didiknya tidak konsentrasi. Dewa akan memamerkan keahliannya agar anak didiknya jadi semangat berlatih. Bukannya menjawab Wedi malah menyenderkan kepalanya ke bahu Dewa. Tiba-tiba dia berkata, "Eh tunggu dulu ya..!"

Wedi masuk ke dalam kamar, tak lama dia keluar. Kali ini dia telah memakai gaun tidur yang sangat tipis. Gugup Dewa melihat pemandangan di depannya, lalu dia berkata, "Maaf Wedi, saya datang ke sini untuk mengajar, saya sangat butuh pekerjaan ini, jangan permainkan saya..! Saya tidak tahu apa yang anda mau.!" Dewa tidak tahu harus berpikir apa, ingin pergi dari situtapi dia sangat butuh uang saat ini. Jika tetap di situ berarti dia melanggar cita-citanya untuk menjadi pianis profesional.

"Saya tidak butuh les piano..!" tiba-tiba Wedi berteriak.
"Saya tahu kamu butuh uang, kupikir kamu tahu apa yang saya butuhkan. Jadi kalau kamu bisa beri apa yang saya butuhkan, maka saya akan beri yang kamu butuhkan.!" kata Wedi lebih lembut dari sebelumnya.
"Tapi kenapa aku?" tanya Dewa.

"Karena kamu butuh uaanngg..!" Wedi berteriak lagi karena sebal dengan penolakan Dewa. Mata Dewa mulai berkaca, merasa betapa harga dirinya begitu rendah. Wedi berkata benar, dia memang butuh uang itu, Dewa makin merasa harga dirinya hancur.

"Oke Wed, tapi aku ingin uang les satu bulan kamu bayar malam ini juga.." sambil berkata itu, menetes air mata Dewa. Bukannya iba melihat sedihnya Dewa, Wedi malah tersenyum.
"Oke.." jawab Wedi sambil berlari riang menuju Dewa dan menariknya menuju kamar tidur.
"Kamu tidur di situ ya..!" pinta Wedi menunjuk tempat tidur sambil memberi senyum termanis yang dia punya.
"Ugh, manisnya senyum itu andai saja dia tak bersuami dan kami sudah kenal lama." Dewa beringsut mengikuti permintaan Wedi.

Dewa kemudian naik ke atas ranjang, dan merebahkan kepalanya di sandaran ranjang. Wedi kemudian mengikuti naik ke ranjang, sambil tangannya mendorong perlahan tubuh Dewa untuk bergeser sedikit. Lalu Wedi berlutut tegak di samping Dewa, memandang mata Dewa lekat-lekat masih dengan senyum termanis. Kemudian secara perlahan-lahan dia mengambil ujung bawah baju tidurnya. Ops.. Wedi terlupa sesuatu.. buru-buru dia turun ranjang dulu, menuju ke buffet yang ada componya, dia pilih salah satu CD lalu diputarnya. Mengalun sebuah lagu romantis dari Lionel Richie.

Dia kembali lagi ke samping Dewa, berlutut di atas ranjang sambil melenggok menari mengikuti irama lagu. Tangannya balik lagi memegang ujung bawah gaun tidurnya dan mulai memilin sedikit-sedikit, lalu menarik perlahan ke atas. Gaun bawahnya mulai naik setinggi bawah selangkangannya. Dewa diam terpaku melihatnya, seumur hidup Dewa tidak pernah berpacaran, apalagi melihat bagian dalam tubuh wanita. Dewa merasa degup jantungnya berdetak kencang, dan dia mulai terangsang. Wedi lalu melanjutkan tariannya. Tak berapa lama muncul celana dalamnya yang transparan dan dan membungkus ketat kemaluannya. Warnanya hitam, ada merahnya sedikit persis di tengah dekat bawah pusarnya, ada satu bunga merah kecil.

Bulu kemaluannya terlihat. Belahan vaginanya tercetak dalam bungkusan CD halus itu yang mengikuti bentuk bibir vaginanya. Dewa merasakan kemaluannya mulai bergerak, terasa penisnya mulai menggemuk, dia sudah terangsang dengan semua yang dilihatnya. Tangannya terlihat mencoba menggapai belahan itu.

"Hmm, tunggu dulu," Wedi melarang Dewa melakukannya. Wedi lalu menarik gaun tidurnya makin ke atas. Menarik bajunya, semakin jelas tubuh putihnya terlihat. Payudaranya masih tertutup BH, tapi terlihat putih dan kencang dan saat bajunya telah melewati kepala, Wedi langsung membuangnya. Tangannya kembali turun lagi yang membuat payudaranya terlihat dan berbentuksemakin menonjol saja. Kemudian Wedi menggeser posisinya, kali ini dia mengangkangi Dewa. Belahan vaginanya makin jelas terpampang di mata Dewa. Saking dekatnya terkadang vagina Wedi menyentuh hidung Dewa. Tercium wangi harum vagina Wedi membuat Dewa tidak mampu lagi menahan sakit penisnya yang ereksinya tertahan oleh celana jeans-nya.

"Mari saya buka.!" Wedi sepertinya melihat hal itu, lalu sambil tetap menyuruh Dewa diam. Dia mulai membuka seluruh kain yang menempel di badan Dewa. Kini Dewa telanjang bulat. Penisnya sudah ereksi penuh dan tegak menunjuk pada Wedi. Wedi tersenyum melihatnya.

Wedi berdiri dan dengan perlahan-lahan melepaskan kaitan BH di punggungnya. Dijatuhkannya tali BH dari samping sehingga Dewa bisa melihat putih dan bulatnya buah dada Wedi. Dewa mengamati puting susu Wedi yang lingkarannya cukup besar dan berwarna coklat kemerahan, sangat kontras dengan tubuhnya yang putih mulus.

Kemudian Wedi membalikkan badan dan membungkuk. Perlahan-lahan dia menurunkan celana dalamnya sehingga Dewa dapat melihat vagina Wedi dari belakang. Vagina itu berwarna merah muda dengan bibir vaginanya agak kehitaman. Wedi membuka kemaluannya lebar-lebar, dan membuka bibir kemaluannya sehingga Dewa dapat melihat jelas bagian dalam vaginanya yang berwarna merah mudadan basah.

Wedi sudah sangat terangsang dan vaginanya sudah sangat basah. Dia masukkan satu jari ke dalamnya dan setelah itu mulai bermasturbasi di depan Dewa. Dalam posisi mengangkang dengan pahanya terbuka lebar, harum liang kewanitaannya langsung tercium. Wedi menyentuh belahan liang kewanitaan dengan ujung tangannya. Lalu tangan satunya lagi menyentuh klitoris. Lalu perlahan-lahan dia menggosok-gosok kedua bagian itu.

Dengan pantat sedikit terangkat, dia terus bermasturbasi dan membuka kakinya lebar-lebar. Setelah kurang dari tiga menit Wedi mendapati dirinya orgasme dan menyemprotkan cairan bening ke tubuh Dewa.

"Sepertinya sekarang giliran kamu ya Wa..?!" kata Wedi sambil berganti posisi dan sekarang berjongkok di atas pinggang Dewa. Demi melihat penis Dewa yang penuh, diusapnya penis itu. Lalu dia mendekat ke dada Dewa, diciumnya puting Dewa. Perlahan-lahan lidahnya mengusap permukaan puting Dewa. Dewa menggelinjang kegelian, tangannya memegang kepala Wedi. Wedi menurunkan kepalanya, menjilati perut dan semakin turun. Dewa makin kegelian ketika hembusan nafas Wedimenyentuh bulu-bulu kemaluannya. Bibir Wedi mulai menyentuh ujung penisnya, dan bergerak terus melingkar mengulum seluruh permukaan kepala penisnya. Sensasi luar biasa membuat pantat Dewa sedikit terangkat. Hangat terasa menutupi sekujur penis Dewa ketika lidah Wedi terus menjilati permukaan kulit penis.

Dan saat jepitan erat bibir Wedi ini semakin turun ke arah bulu-bulu kemaluannya. Penis Dewa semakin berdenyut. Ujung penisnya menyentuh daging halus dan lembut langit-langit tenggorokan Wedi. Lalu perlahan-lahan Wedi mulai menaik-turunkan kepalanya mengulum kemaluan Dewa, sambil sekali-sekali menggunakan giginya untuk menyentuh penis Dewa. Hal ini membuat Dewa meringis kenikmatan. Dia memegang kepala Wedi untuk membantu dan mempercepat gerakan kepala Wedi.

Lalu tak lama berselang, "Cret.. cret.. cret.. cret.. cret.." beberapa kali Dewa mengeluarkan maninya. Dewa melakukannya sambil memajukan pantatnya dan menekan kepala Wedi ke selangkangannya. Hal ini membuat Wedi harus menerima semua air mani yang dikeluarkan Dewa.Ditelan seluruh air mani Dewa tanpa disisakan setetes pun.

Wedi sambil tersenyum manis rebah telentang dengan posisi setengah mengangkang mempertontonkan seluruh anggota tubuhnya ke arah Dewa. Kedua buah dadanya yang ternyata memang sangat besar terlihat masih begitu kencang, sama sekali tidak kendor, membentuk bulatan indah bak buah semangka. Kedua puting payudaranya yang kecil berwarna coklat kemerahan mengacung ke atas seolah menantang. Begitu pula perutnya masih terlihat ramping dan seksi tanpa lipatan lemak.

"Uoogh.." tanpa terasa mulut Dewa mendesah takjub menyaksikan keindahan bukit kemaluannya yang besar. Seumur hidupnya baru kali ini dia menyaksikan alat kemaluan wanita. Belahan bibir kemaluannya yang sangat putih mulus walau sedikit kecoklatan terlihat sangat tebal membentuk sebuah bukit kecil. Bibir luarnya masih terbuka seakan memanggil-manggil Dewa untuk kembali menikmati.

Melihat hal itu, membuat penis Dewa tetap tegang. Dia ingin sekali memasukkan kemaluannya ke lubang vagina yang ada di depannya, merasakan jepitan dan pijitannya. Jelas sekali Dewa melihat vagina itu berdenyut-denyut. "Terbayang betapa nikmatnya jika penisku bisa masuk ke situ," guman Dewa dalam hatinya. Tapi dia tak tahu batas permainan Wedi. Apakah sebatas mencapai orgasme atau bisa sampai coitus total. Dewa tetap diam saja sambil menikmati pemandangan yang baru pertama kali dia lihat itu.

Keberanian Dewa mulai timbul ketika dilihatnya Wedi tersenyum padanya, dan membuka kakinya lebih lebar. Terlihat bagian dalam vagina yang merah dan basah. Dewa mendekat ke arah bukit itu pelan-pelan sekali sambil memperhatikan reaksi Wedi. Terlihat Wedi diam saja, bahkan tangannya terlihat menyambut kedatangan kepala Dewa. Seperti mendapat ijin, Dewa mencium lembut bibir kemaluan itu, dijilati ujungnya, dan diputar-putarkan lidahnya. Terkadang dimasukkan lidahnya ke dalam rongga vagina hingga membuat rongga itu semakin berdenyut-denyut. Hal ini membuat nafsu Dewa semakin memuncak untuk merasakan pijitannya. Dewa lalu menaikkan badannya. Wajahnya mendekati wajah Wedi, dilihatnya wanita itu tersenyum.

"Wed, bolehkan aku melakukannya?" tanya Dewa.
Wedi mengangguk sambil membelai lembut rambut Dewa dan menggigit bibirnya sendiri.

Mereka berdua secara bersamaan melenguh nikmat saat kulit tubuh mereka saling bersentuhan dan akhirnya merapat dalam kemesraan. Batang penis Dewa yang berdiri tegak seakan kena setrum saat menyentuh bukit kemaluan Wedi yang halus dan sangat empuk. Bukit kemaluan Wedi memang relatif montok dan besar.

Perlahan Dewa membuka kedua belah paha Wedi. Vaginanya terlihat membuka dan makin menggoda. Dengan lembut Dewa menyentuhkan dan menyelipkan penisnya ke dalam bibir kemaluan Wedi yang basah. Dewa berhenti sejenak ketika kepala penisnya masuk 1/4. Dia memejamkan matanya menahan nikmatnya perasaan saat itu. Perasaan luar biasa ketika kepala penisnya menggesek bibir minoravagina Wedi. Wedi mungkin mengira seluruh batang penis itu ingin memasuki liang vaginanya, karena begitu kepala penis menyelip di antara bibir kemaluannya terlihat ia membuka kedua pahanya lebar-lebar. Dewa merasa betapa begitu halus kulit kedua belah pahanya yang langsung mengapit pinggangnya lembut.

"Lagi Wa, masukin lagi..!" Wedi merengek ketika mengetahui Dewa menahan gerakannya.
Dewa yang masih baru dalam bercinta mengikuti permintaan itu, dia terus menekan penisnya lebih dalam perlahan-lahan sampai akhirnya semuanya masuk.

"Ouugghh..!" Dewa melenguh ketika pangkal penisnya menyentuh lubang kewanitaan Wedi. Terasa seluruh penisnya digenggam erat oleh vagina Wedi. Ujung penisnya seperti menyentuh kain-kain basah yang lembut di ujung sana. Dewa lalu memajumundurkan pantatnya. Dia menarik sampai sekitar 50 persen panjangnya, lalu menekan lagi hingga masuk semuanya. Dewa terus melakukan itu, sekarang dia mulai berani mengocok agak keras cepat.

Tiba-tiba, "Oougghh.. oh.. oh.. oh.. oh.." Wedi menjerit-jerit.
Dewa mengisi ruang baru yang tak tersentuh sebelumnya. Sangat terasa sumpalannya, kokoh, kuat, bertenaga. Fantastis! Hampir semua permukaan penis Dewa yang panjang itu bagai membelai seluruh permukaan dalam vaginanya.

"Ough.. terus Wa..!" Wedi menggelepar-gelepar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Lubang vagina Wedi semakin basah, dan meremas-remas batang kemaluan Dewa. "Uhh.. hu.. hu.. huu.." terdengar suara Wedi seperti merintih, menahan nikmatnya sodokan penis Dewa. Wedi makin membuka kakinya. Ditariknya kakinya ke atas, sehingga lututnya menyentuh dadanya. Hal ini membuat Dewa makin leluasa memasukkan penisnya.

"Waa.. udah Waa.. aku udah dapat.!" teriak Wedi ketika merasakan orgasme, rongga kewanitaannya menjadi lebih berdenyut, seperti menggigit lembut penis Dewa. Wedi menaikkan pantatnya agar penis Dewa makin dalam mengisi vaginanya.

"Ouughh.. Wa.. hiks.. hiks.. hu.. hu.." Wedi kembali merintih kenikmatan. Kedua tangannyameremas-remas pundak Dewa. Pada saat Wedi mencapai orgasme. Dewa tiba-tiba merenggut pantat Wedi, mencengkeramnya. Dihentak-hentakkan pantatnya ke bawah. Hal ini membuat gesekan antara penis dan rongga vagina makin cepat. Dewa terus melakukannya hingga pada hentakan terakhirditekannya pantat lama sekali ke bawah.

Tiba-tiba Wedi merasakan senjata Dewa semakin besar, dan Dewa memdesis desis dan berteriak. Vagina Wedi terasa semakin penuh, Dewa mencapai orgasmenya. Dibarengi dengan semburan cairan kewanitaan Wedi tanda pengakuan akan kenikmatan yang diberikan Dewa. "Seerr.." Wedi merasakan ada tembakan hangat di dalam rahimnya. Lembut dan mesra. Semprotannya kencang sekali danberkali-kali. Kira-kira tujuh atau delapan tembakan, badan Dewa mengejang, dan lalu lemas, lunglai, jatuh ke depan, menindih Wedi. Dia mencium bibir Wedi dan mengucapkan terima kasih. Wedi mencium balik. Mereka berpagutan beberapa saat. Tubuh mereka berkeringat, basah sekali.

Bersambung ... . . .


Lika-liku kehidupanku - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
Setelah agak lama baru dikeluarkan rudalnya, dan saking penuhnya isi kemaluan Dewa di vagina Wedi, terdengar bunyi, "Plop..!" saat kedua alat kenikmatan itu dipisahkan.

"Berapa sih panjangnya Wa?" tanya Wedi.
"Cuma 20 cm."
"Oh, pantas sampai sesak rasanya." Wedi lalu menyentuh kemaluan Dewa dan mengusapnya perlahan.

"Wa, saya selalu sendirian di rumah ini. Suami saya sudah tua dan sering di luar kota. Saya ingin hubungan kita tidak terhenti," Wedi menyenderkan kepalanya sambil terus mengusap penis Dewa.
"Wedi, saya rasa apa yang kita lakukan sudah cukup. Sekarang saya ingin pulang. Saya harap kamu memegang janji kamu untuk membayar saya penuh satu bulan." Dewa sangat tidak ingin melanjutkan kemesraan ini karena selain waktu telah menunjukkan jam 6 sore. Dia juga tidak ingin mengambil resiko tertangkap basah dengan istri orang lain.

Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari depan rumah.
"Siapa tuh Wed?" tanyaku setengah panik sambil bergegas mengambil baju untuk dipakai.
"Itu suamiku.!" jawab Wedi.
"Oh tuhan, apa yang saya lakukan. Apa jadinya kalau dia masuk." Dewa berpikir membayangkan nasibnya.
"Wed, jangan buka dulu pintunya, beresin dulu kamar ini..!" tentu saja Dewa mengusulkan hal itu. Karena di atas peraduan cipratan air sperma dan lendir kewanitaan Wedi ada di mana-mana.

"Percuma Wa. Suamiku pegang kunci juga," Wedi menjawab sambil merobek-robek baju yang dia pakai saat kami berlatih piano, dan juga pakaian dalamnya. Dewa sangat heran melihatnya. "Apa yang Wedi lakukan..?" Dewa bertanya dalam hati.

Belum sempat Dewa bertanya, terdengar pintu depan dibuka dan tiba-tiba masih bertelanjang bulat Wedi lari ke ruang tamu sambil berteriak dan menangis tersedu-sedu.
"Pi.. Papi.. saya diperkosa Pi..!" tangis Wedi dipelukan suaminya.

SABTU, 5 MEI 1997

Sudah sebulan lebih Dewa berada di kursi pesakitan. Kini dia sedang menunggu detik-detik putusan Hakim akan dirinya.
"Saudara Dewa Karta Purnama dinyatakan secara sah terbukti bersalah melakukan tindak pidana perkosaan dijatuhi hukuman 5 tahun penjara dipotong masa tahanan." terdengar suara Pak Hakim membacakan putusannya, lalu mengetokkan palunya ke meja. Dewa merasa kepalanya berputar, jika boleh, dia memilih lebih baik mati. Dilihat Ibunya meneteskan air mata di kursi pengunjung, dan ketika dia memasuki mobil tahanan. Tangis Ibunya menjadi meledak-ledak, histeris dia mengejar mobil tahanan yang terus melaju seperti mengacuhkannya.
"Maafkan aku Ibu, maafkan aku.." lirih Dewa berucap melihat ibunya yang terus berlari mengejar dirinya.

MINGGU, 6 MEI 1997

Ini hari kedua dia berada di LP Cipinang, hari pertama kemarin dia menghabiskan waktunya dengan menyesali nasibnya yang buruk. Kali ini dia lebih baikan. "Tak ada yang perlu disesali. Ini memang jalan hidupku." Dewa yakin segala cobaan ini akan berakhir.

"Korvey.. Korvey..!" Sipir penjara berteriak melewati semua blok sambil membuka semua pintu sel.
Dewa segera keluar ketika pintunya dibuka.
"Upffss..!" pekik Dewa. Ternyata dia menabrak seorang pria yang sedang jalan di depan selnya.
"Besar juga badannya, sampai badanku mental," guman Dewa. Dewa lalu minta maaf kepada pria yang ditabraknya. Tinggi hampir sama dengan dirinya sekitar 172 cm, hanya pria ini badannya lebih padat. Otot Trisep dan Bisepnya terlihat jelas, begitu juga otot dadanya yang menonjol ke depan. Tapi pria ini ramah juga, buktinya dia mejawab maaf Dewa dengan tersenyum. "Gak pa-pa, kok. Lain kali hati-hati aja..!" katanya tersenyum lalu melangkah meniggalkan Dewa.

Dewa memperhatikan pria itu, "Pria itu tidak pantas berada di sini, wajahnya sangat ramah dan simpatik. Selain itu sepertinya dia juga baik, mungkin nasibnya sama dengan diriku."
Diperhatikan lagi pria itu. Dia memakai kaos tanpa lengan, celana jeans pendek. Bentuktubuhnya yang V terlihat jelas. Rambutnya yang sepanjang bahu berwarna hitam gelap.
"Dia benar-benar tidak pantas berada di sini, dia harusnya berada di majalah-majalah dan iklan TV." dalam hati Dewa berucap sambil melangkah menuju tempat korvey.

Para napi mulai membersihkan pekarangan dalam LP. Kelihatan sekali Dewa tidak menikmati pekerjaannya. Sering kali dia ditegur oleh sipir penjara karena kedapatan melamun. Tiba-tiba dilihatnya seorang pria melambai-lambaikan tangannya mengajaknya mendekat. "Itu pria yang tadi, mungkin dia butuh bantuan," Dewa mendekati pria itu. Dilihatnya pria itu keberatan mendorong gerobaknya yang penuh berisi batu.

"Bantu aku dong..!" katanya sambil menyodorkan tangannya.
"Edward" katanya.
"Dewa.."
"Dorong ini sampai belakang LP," katanya sambil mulai mendorong. Dewa segera menarik gerobak itu dari depan dan Edward dari belakang. Setibanya di belakang mereka mengosongkan gerobak itu.
"Eh kamu mau rokok nggak," tanya Edward melangkah meninggalkan gerobak itu tergeletak begitu saja.
"Boleh.." Dewa bergegas menyusul langkah teman barunya itu.

Tiba-tiba begitu badan mereka terhalang oleh pepohonan, Edward segera berkelit masuk ke sebuah ruangan yang kemudian dijelaskan oleh Edward sebagai bekas tempat gunting rambut para napi. Tempat itu tak terpakai lagi karena para napi memilih mencukur rambutnya kepada sipir penjara yang harganya lebih murah. "Tentu saja lebih murah, karena uangnya masuk ke kantong sipirnyatidak ke kas Lp seperti tempat cukur ini."

Edward lalu mendokel satu ubin dan mengeluarkan satu Pak rokok dari luar negeri. Di bawah ubin itu masih banyak benda-benda lain yang tidak jelas terlihat oleh Dewa.

"Nih cobain.." Edward menyodorkan rokok itu.
Dewa menghisap rokok itu sambil memejamkan matanya penuh kenikmatan. Ketika dia membuka matanya dilihat Edward sedang membuka ubin lagi. Lalu dia mengeluarkan sebuah majalah dan sebotol lotion. "Ini majalah porno dan ini pelumas, aku harus melakukan ini kalau ingat pacarku." katanya, lalu mulai membaca majalah itu.

Seumur hidupnya Dewa tidak pernah membaca buku seperti itu, makanya dia tertarik untuk ikut melihatnya. Setelah sekian lama melihat dan membaca buku itu, Edward lalu berdiri, dia melorotkan celananya. Dewa terkejut melihat Edward secuek itu. Edward lalu melorotkan juga celana dalamnya. Dioleskanya lotion itu ke ke ujung penisnya, lalu diusapkan ke seluruHPermukaan penisnya.

"Ougghh.." matanya memejam menahan nikmatnya perasaan di penisnya. Lalu dimajumundurkan tangan kanannya pada penisnya, sedangkan tangan kirinya meremas-remas bola zakarnya. Matanya tetap memejam dan sekali-sekali terdengar leguhan dari mulutnya. Gerakan tangan kanannya kadang maju mundur kadang memutar, kadang cepat kadang lambat. Dewa hanya diam terpaku melihat kejadian di depannya. Setelah beberapa menit tubuh Edward mengejang dan condong ke depan.

"Ouugghh..!" lenguhnya sambil memuncratkan spermanya ke tembok.
Edward lalu terduduk sambil tangan kanannya meremas-remas penisnya. sepertinya dia inginmenghabiskan sisa sperma yang masih ada di dalam rongga kemaluannya.

"Sekarang giliran kamu," katanya pada Dewa.
"Gak ah..!" Dewa menggelengkan kepalanya sambil kagum pada kecuekan pria di depannya.
"Ayo jangan malu-malu."
"Kamu juga udah nafsu kan.?" katanya lagi.
"Iya sih, tapi kan malu ada kamu."
"Alah cuek aja, ini lotionnya.." Edward memberikan botol lotion pada Dewa.

Dewa mengambil botol itu, sambil memikirkan kenapa juga dia harus malu, ini kan hal yang lumrah untuk pria seusia mereka. Lalu Dewa berdiri dan menjatuhkan celananya ke lantai. Dibuka juga celana dalamnya. Terlihat penisnya yang sedikit lebih besar dari punya Edward sudah tegakberdiri mengacung ke arah tembok.

Ditumpahkannya lotion ke telapak tangan lalu dioleskan ke permukaan penisnya. Dikocok secara pelan kemaluannya sampai pangkal-pangkalnya. Mata Dewa terpejam dan sesekali badannya condong ke depan. Lalu dia mendiamkan tangannya dan memajumudurkan pantatnya, seolah-olah dia benar-benar sedang menyetubuhi seorang wanita. Tangannya yang dibuat berbentuk O dan licin oleh minyak lotion dirasakannya bagai rongga dalam vagina. Makin lama gerakannya makin cepat.

"Wa ngadep sini Wa.!" tiba-tiba Edward berteriak mengagetkannya.
"Ada apa?"tanya Dewa sambil berputar menghadapkan badannya ke Edward.
"Muntahin ke gua Wa.!" Kata Edward lagi.
"Wah gila lo," kata Dewa sambil terus mengocok.
"Iya Wa..!" katanya dengan mata berbinar.
Dewa yang sedang dalam puncak kenikmatan dan akan orgasme tidak berpikir panjang. Langsung sajamemuntahkan air spermanya dengan tetap menghadap Edward. Tentu saja sebagian spermanya menyiprat wajah Edward.

"Ougghh.." lenguh Dewa sambil memajukan pantatnya dan menggenggam penisnya sampai pangkalnya.
"Ouughh.. nikmat banget gila..!" kata Dewa berteriak kegirangan.
Edward tersenyum di sampingnya.
"Ayo kita ke pekarangan lagi. Kalau terlalu lama nanti sipirnya curiga," kata Edward sambil membereskan semua peralatan mereka dan melangkah keluar ruangan.

Sejak kejadian itu Dewa jadi sering melakukan onani bersama-sama Edward di ruangan rahasia mereka. Mereka makin lama menemukan permainan-permainan baru dalam onani mereka seperti, siapa yang muncratan spermanya paling jauh, siapa yang paling lama menahan ejakulasinya, siapa yang paling cepat ejakulasi. Tapi selama melakukan itu bersama Edward, Dewa merasakan bahwa teman dekatnya itu terlalu imajinatif. Dia sering mengatakan bahwa penisnya lebih kuat dari pedang. Dan sering mengajak Dewa beradu pedang. Jika Dewa lagi datang isengnya dia akan meladeni juga. Dan menurut Dewa, Edward itu terlalu baik. Edward kadang rela mengocokkan penisnya. Meremas-remaskan dan memutar-mutarkan penisnya dengan alasan Edward suka merasakan denyutan penis ketika akan mengeluarkan spermanya. Tidak terlintas di pikiran Dewa bahwa temannya itu homoseksual sampai di suatu hari..

JUMAT, 12 DESEMBER 1997

Saat itu kami terlalu asyik di ruang cukur sampai terlambat ikut apel pagi, sehingga kami dihukum membersihkan kamar mandi. Jadi saat para napi sudah kembali ke sel, kami berada di kamar mandi menjalankan hukuman. Ketika berada di ruang shower, tiba-tiba Edward berbicara, "Wa, kamu pernah nggak ngebayangin ciuman dengan aku?" tanyanya sambil melihat pada Dewa.
"Wah gila lo ya?" Dewa berusaha mengacuhkan pertanyaan temannya.
"Gua serius Wa! Apa yang kamu rasakan jika aku mencium bibir kamu.. lalu aku mencium dada kamu.. menjilati puting kamu dan mengulum penis kamu?" Edward bertanya dengan wajah serius.

Dewa jadi salah tingkah, dia merasa dirinya normal. Tetapi entah mengapa kemaluannya tiba-tiba menghangat dan mulai terisi oleh darah. Dewa berusaha menahan ereksinya, dia melanjutkan membersihkan dinding ruang shower.

"Wa, nggak usah malu Wa, nggak pa-pa kok, sekarang punyaku juga sudah bangun. Pegang aja, kalo nggak percaya," kata Edward sambil tangannya menuntun tangan Dewa memegang bagian depan celananya.
"Astaga!" Dewa merasa penisnya makin penuh oleh darah dan makin keras, terasa berdenyut-denyut begitu juga dengan penis temannya. Dewa tidak tahu harus berpikir apa.

Tiba-tiba Edward membuka bajunya dan berkata, "Mandi bareng yuk!" dengan cepat dia membuka kran shower. Lalu dia membuka seluruh pakaian yang ada di tubuhnya sehingga dia telanjang bulat. Penisnya terlihat tegak menunjuk ke depan.

"Ayo coba aja," kata Edward sambil menarik tangan Dewa.
"Sebentar.. sebentar, ntar baju gua basah," pekik Dewa.
Lalu dia mencopot baju dan celana beserta celana dalamnya dan bergabung bersama Edward.

Mereka berdua dalam keadaan telanjang bulat dan dalam keadaan kemaluan mereka keras menegang saling berdiri. Edward mendekatkan dirinya dan penis mereka saling bersentuhan, kemudian dia jongkok dan mengulum kemaluan Dewa beserta bijinya, Dewa mengerang keenakan. Tangan kiri Edward berada di pangkal kemaluan sementara mulutnya mengulum kemaluan Dewa, tangan kanan Edward berada di pantat Dewa yang bulat.

"Ahh.. ahh.. terus, Ward!" kata Dewa sambil pantatnya makin cepat maju mundur. Makin Edward hisap dengan kuat, penisnya makin terasa hangat dan berdenyut, terlihat tangan kanan Edward mulai mengocok kemaluannya sendiri. Edward menghisap penis Dewa dengan ganas, dijilatinya seluruh permukaan penis. Kemudian dengan cepat dia menggerakkan kepalanya maju mundur dengan cepat dan isapannya makin kuat. Dewa memegang kepalanya dan bersandar di dinding. Makin lama terasa denyutan di penis, sepertinya ada aliran sungai yang ingin keluar.

"Aahh.." Dewa mengerang dan cairan hangat menyembur ke dalam kerongkongan Edward. Lepas sudah air mani Dewa, ditelan oleh Edward seluruhnya dengan hausnya. Sementara tangan Edward makin cepat mengocok kemaluannya dan, "Aahh..!" Edward melepaskan air maninya di lantai. Lepas dan nikmat sekali.

Lalu mereka berpakaian, dan melanjutkan hukuman yang mereka terima. Selagi bekerja sesekali mereka saling melirik dan tersenyum. Setelah selesai, sekitar jam 9 pagi mereka mengembalikan alat-alat yang dipakai.

Ketika melewati kamar sipir untuk penjaga malam, Edward tiba-tiba menarik tangan Dewa masuk ke dalam. "Wa, sekarang sipirnya ada di pos jaga semua, tempat ini bakal kosong sampe ntar shift siang datang." Edward mulai membuka bajunya. "Tapi Ward aku capek.!"

Tetapi Edward sama sekali tidak memberinya kesempatan karena tangan Dewa langsung diseret. Tahu-tahu mereka sudah berhadapan, dekat sekali, tangan Edward memeluk dia dan dia juga begitu. Entah kapan mulainya, bibir Edward dan bibirnya sudah saling menyerang. Saling gigit, saling sedot, dan lidah kami sudah sama-sama bertempur.

Edward menggigit telinga Dewa, belakang telinganya dijilat-jilat mesra, dan tangan kanan Edward mulai bermain-main mencari puting Dewa. Sesudah didapatkan, dipelintir-pelintir putingnya, sampai Dewa terengah-engah, merintih-rintih, sambil mulut dan lidah Edward sibuk menggigit-gigit di leher dan telinga Dewa. Dewa mendesah-desah meminta Edward untuk tidak menghentikan permainan itu.

Dewa mengerang-erang lebih dahsyat lagi ketika Edward mulai menjilat-jilat putingnya. Edwardmenyedot-nyedot, menghisap-hisap, dan menggigit-gigit kecil yang kanan, yang kiri dan seterusnya berganti-ganti. Seperti ada denyut-denyut nikmat di penis Dewa setiap Edward mempermainkan puting Dewa dengan giginya. Karena tidak tahan, Dewa terduduk di tempat tidurnya, dan merebahkan diri. Edward pun langsung menindih dan memagut bibir Dewa. Sekali lagi bibir mereka saling berpagutan.

Edward lalu perlahan-lahan membuka baju dan celana Dewa sambil terus berpagutan, sehingga tak terasa oleh Dewa, dia sudah telanjang bulat. Edward lalu menggenggam kemaluan Dewa yang telah tegak berdiri berdenyut.

"Wa boleh nggak aku memasukkan penisku ke anusmu?" tanya Edward dengan wajah yang memelas menggemaskan.
"Nggak lah..! Kalau itu pasti nggak akan gua ijinin.!" cepat Dewa menjawab.
"Kalau kamu masukin penis kamu ke anusku mau nggak?" tanya Edward masih dengan wajah menggemaskan.
Setelah agak berpikir beberapa detik, Dewa menjawab, "Oke dehh.!"
"Tapi Wa, kamu gesek-gesekin dulu ya kepala penis kamu di lubang anusku."
Dewa lalu menjawab dengan anggukan.

Sambil berpagutan kini mereka berganti posisi, Edward jadi di bawah dan Dewa di atas. Tangan mereka saling menggenggam penis lawan mainnya. Bibir mereka saling mengulum. Lidah mereka saling menjilat dan tangan mereka yang satu lagi saling meremas rambut pasangannya.

"Wa, mulai ya..!" kata Edward sambil memutar tubuhnya sehingga membelakangi Dewa lalu mengangkat pantatnya tinggi ke atas. Kini dia dalam keadaan menungging. Dari belakang terlihat pantat Edward yang bulat sangat menggoda dan merangsang. Sedang lubang anus Edward sudah berdenyut-denyut siap untuk meremas-remas penis Dewa yang akan dimasukkan. Edward membuka lebar kedua kakinya, sehingga lubang anusnya merekah terbuka.

Bersambung . . . . . .


Lika-liku kehidupanku - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
Dewa membasahi penisnya dengan air liur. Diusapkan juga air liur di atas lubang anus Edward. Dewa mulai menyodokkan penisnya. Ketika menyentuh lubang anus, Dewa berhenti sejenak dan menggesek-gesekkan ujung penisnya ke atas dan ke bawah, Edward merasakan nikmat geli yang luar biasa. Nikmat sekali. Tangan Edward yang bebas berusaha mengocok penisnya sendiri.

"Wa.. Ambilin biore yang ada di gayung itu.!" kata Edward ketika dirasanya kocokan di penisnya tidak nikmat. Dewa lalu memberikan biore itu pada Edward. Edward lalu mencampur biore dengan air liurnya dan dioleskan ke kepala penis milik dia dan Dewa.

Mereka lalu kembali ke posisi semula. Dewa tetap menggesek-gesekkan kepala penisnya di lubang anus. Dan Edward tetap mengocok penisnya perlahan-lahan. "Wa.. Mulai Wa masukin, udah nggak kuat.!" pinta Edward sambil memejamkan matanya.

Dewa lalu mulai menekan penisnya perlahan. Terasa pijitan yang kuat di seluruh penisnya. Penisnya terasa seperti disedot-sedot oleh rongga anus temannya. Pelan-pelan Dewa terus memasukkan penisnya hingga akhirnya seluruh penisnya masuk sampai ke pangkalnya. Dewa memejamkan matanya meresapi kenikmatan yang dialaminya. Penisnya terasa disedot dan dikenyot oleh lubang anus Edward.

Sebaliknya Edward ketika seluruh penis sudah masuk, lubangnya serasa penuh, hangat dan berdenyut-denyut. Edward merasakan senjata Dewa memenuhi lubangnya dari luar sampai dalam, hangat berkejat-kejat. Indah sekali. Langsung Dewa menariknya keluar dan menyentakkannya lagi masuk. Edward tercekat. Sodokannya nikmat sekali. Ditariknya lagi, dan dihentakkannya lagi senjatanya. Edward berteriak kalau batang kejantanannya menyentak ke dalam, dan sebaliknya, mendesah kalau batang kejantanannya ditariknya keluar. Edward merasakan nikmat di seluruhsyarafnya.

Gesekan kulit batang kelamin dengan lubang anus antara keduanya memberikan perasaan gatal-gatal nikmat. Sambil merasakan sodokan demi sodokan kejantanan Dewa, Edward menggoyang-goyang, dan mengejang-ngejangkan otot lubangnya supaya Dewa merasakan senjatanya diurut-urut. Edward ahli dalam hal ini.

Meskipun belum pengalaman. Reaksi Dewa ketika merasakan senjatanya digigit-gigit oleh lubang anus Edward jelas terlihat. Dia mendesis-desis, merem melek. Pasti nikmat sekali. Kerjasama yang indah. Batang kejantanannya memberi Edward rasa nikmat yang luar biasa, sementara Dewa pasti merasakan nikmat yang luar biasa pula.

Sodokan-sodokan Dewa kurang lebih selama sepuluh menit. Selama itu Edward mengocok-ngocok batang penisnya sendiri karena nikmatnya dahsyat sekali kalau ngocok sambil pantatnya ditusuk begitu. Tiba-tiba Edward merasakan senjata Dewa semakin besar, lubang Edward terasa semakin penuh, dan Dewa mencapai orgasmenya. Edward merasakan ada cairan hangat mengalir dalam perutnya. Badan Dewa mengejang, lalu lemas, lunglai, dan jatuh ke depan menindih Edward.Dia mencium bibir Edward, dan bilang terima kasih. Rupanya Dewa lebih berani sekarang. Edward mencium balik. Mereka berpagutan beberapa saat. Tubuh mereka berkeringat, basah sekali.

Edward belum keluar, jadi tangannya meraih penisnya sendiri yang masih tegang, dan mulai mengocoknya. Dewa tidak diam melihat Edward mengocok penisnya begitu. Kini dia sudah benar-benar berani. Dijilat-jilat dan dihisap-hisapnya puting susu Edward satu demi satu dandipelintir-pelintirnya dengan jarinya. Hanya dalam beberapa saat, Edward mengejang dan tiba-tiba Dewa menggeser tangan teman dekatnya itu. Tangan Edward diganti dengan tangannya. Dia mau berganti peran. Begitulah. Dia kulum senjata Edward dan disedot-sedotnya. Dewa benar-benar sudah berani. Sementara Edward melakukan perangsangan sendiri dengan memelintir-melintirkan putingnya.

Karena nikmat yang amat sangat dari atas dan di selakangannya, Edward pun menyeburkan maninya dengan keras. Rasanya nikmat sekali. Edward melenguh karena geli, lalu mencium bibir Dewa dan menciuminya di mana-mana.

Sejak kejadian itu mereka jadi lebih akrab, dan selalu menyisihkan waktu yang ada untuk melakukan hubungan seks.

JUMAT, 23 FEBRUARI 2001

Sudah 3 tahun 11 bulan Dewa menjalani hukuman, berarti satu bulan lagi dia dibebaskan, hal ini karena dia mendapat remisi selama 1 tahun setelah dianggap berkelakuan baik. Edward sendiri sudah keluar 6 bulan yang lalu. Dia bisa kembali ke pacarnya dan tidak harus melakukan seks dengan pria lagi jika dia mau. Kalau di LP pilihannya hanya pria. Memang ada fasilitas menginap semalam untuk istri setiap bulan. Tapi Dewa dan Edward belum menikah, jadi mau tidak maujika mereka ingin melampiaskan nafsunya, selain onani ya tentu saja dengan teman se-LP.

Sudah 6 bulan Dewa mengeluarkan spermanya dengan tangannya sendiri. Dia sudah tak tahan untukmengeluarkan spermanya dengan kuluman atau dekapan hangat rongga tubuh orang lain. Andai saja dia punya uang, dia akan menyuap sipir penjara untuk membawakannya pelacur sehingga dia bisa menyelipkan penisnya ke dalam vagina. Tapi apa daya dia tidak ada uang.

Mengingat uang, dia jadi ingat dengan Wedi. Wanita keparat yang menjebloskan dia ke dalam penjara ini. "Cuih..!" Dewa ingin sekali membunuh wanita itu. "Pasti dia sekarang setiap saat bertukar pasangan menikmati penis yang berbeda-beda dalam vaginanya. Dasar cewek matre nggak tau diri..! Duit suaminya dipake selingkuh..!" Dewa berujar dalam hati.

"Dewa.. ada tamu mencari kamu..!" terdengar dari speaker ruang tamu nada panggilan untuk Dewa."Tamu..?" dengan heran Dewa berjalan menuju ke ruang tamu. Selama ini tak ada saudaranya yang menjenguk. Paling juga ibunya, tapi itu juga 2 tahun yang dulu sebelum beliau terserang parkinson. Kini dia dibawa oleh paman Dewa yang di Surabaya. "Maafkan aku Ibu..!" lirih Dewa berguman. Dewa benar-benar menyesal atas perbuatannya setiap dia ingat akan ibunya.

Dewa melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang tamu. Diamati siapa tamu yang menjenguknya. Ternyata tamu yang sedang menunggunya adalah seorang wanita yang sangat dia benci, wanita yang menghancurkan hidupnya, Wedi. Amarah Dewa timbul, mereka bertatapan. Dia ingin sekali menerjang wanita itu dan merobek-robek tubuhnya. Tapi dia ingat, bahwa hukumannya selesai 1 bulan lagi. Dia tidak ingin menghancurkan kebebasannya, dia takut jika dia tetap di sini, dia akan benar-benar membunuh. Dasar wanita sialan. Selalu saja bikin masalah. Kebencian Dewa padanya semakinmemuncak. Dia membalikan badannya, segera melangkah keluar.

"Dewa..! Tunggu..!" teriak Wedi ketika dilihatnya Dewa tidak ingin menemuinya. Dewa tetap melangkah seakan tidak mendengarnya.

"Dewwaa.. suamiku meninggal.!" teriak Wedi untuk mencegah Dewa melangkah lagi.
"Dewa, apa kau pikir aku senang dengan apa yang kita alami. Aku tiap hari dibayangi perasaan berdosa karena menyebabkan kau di penjara..!" teriak Wedi lagi.
Dewa tidak mengerti arah pembicaraan Wedi, suami meninggal, lalu dibayangi rasa berdosa.
"Huh, apakah dia mau menunjukkan bahwa dia juga menderita seperti aku. Huh, penderitaanmu tidakapa-apanya dibanding aku," guman Dewa dalam hati sambil terus melangkah.
"Dewaa..! aku mencintai kamu..!" akhirnya keluar juga perasaan yang dipendam oleh Wedi sejak dia bercinta dengan Dewa. Perasaan itu berlipat oleh perasaan berdosa kepada Dewa. Cintanya makin besar. Walaupun Dewa seorang napi. Dia kini tidak takut untuk memilih sendiri calon suaminya. Dia kini wanita kaya. Harta suaminya jatuh kepadanya setelah suaminya meninggal.

Tapi ternyata Dewa memikirkan hal lain, Dewa memikirkan balas dendam. Jika dia menikahi Wedi dan Wedi mati, tentu saja dia akan menikmati seluruhnya harta Wedi.
"Ini pembalasan yang terbaik..!" guman Dewa. Dia lalu membalikkan badannya dan berjalan mendekati Wedi. Ditahan sekuat tenaga amarah yang ada.
"Apa maksud dari semua ucapanmu Wed..?" suara Dewa tetap bergetar walaupun dia berusaha tenang.
"Aku ingin kau menikahiku Wa, aku sangat mencintaimu.!" air mata menetes dari pelupuk mata Wedi ketika dia mengucapkan kata-kata itu.
"Air mata buaya," Dewa mengguman dalam hati.
"Kamu yakin akan ucapanmu?" Dewa tetap dengan susah payah menahan emosinya untuk tidak merobek mulut wanita itu.

"Aku ingin menikahimu Wa. Apa yang bisa lebih meyakinkan dari itu?"
"Ada.. kamu mati untukku," guman dewa dalam hati.
Tiba-tiba Dewa teringat akan nafsu seksnya yang tidak tersalurkan selama ini.
"Aku ingin kamu gimanapun caranya, menyuap atau apapun, menginap di LP ini untuk semalam. Jika kamu bisa aku percaya kamu mencintai aku.!" ujar Dewa sambil membalikkan badannya.
"Dewwaa..! aku akan memenuhi permintaanmu, malam ini juga. Dewa percayalah padaku.!" teriak Wedi sambil menyeka air matanya yang menetes. Sedangkan Dewa terus berjalan meninggalkan ruang tamu LP.

Ternyata benar perkataan Wedi, karena malam harinya ada panggilan untuk Dewa agar datang ke ruang bermalam. Panggilan ini di sampaikan diam-diam oleh sipir penjara.

Dewa masuk ke dalam kamar itu. Di dalam sudah ada Wedi yang duduk dengan menggunakan gaun tidur yang sama dengan yang dulu dia pakai 4 tahun yang lalu. Tubuhnya masih seksi seperti dulu, kulitnya yang putih, perutnya yang ramping serta bibirnya yang ranum membuat penis Dewa berdesir kecil. Dewa mendekati tubuh Wedi. Tangannya maju ke depan berusaha memegang payudara."Ets.. Tunggu dulu," tepis Wedi. "Hhmm.. ternyata dia pikir aku seperti dulu yang nurut saja sama dia, ini daerahku jadi aku yang berkuasa." guman Dewa. Dewa ingin melampiaskan kebenciannya malam ini pada wanita itu.

Dia mencengkram rambut Wedi dengan tangan kiri. Lalu digamparnya pipi Wedi dengan tangan kanan sekuat tenaga. Wedi terkejut diperlakukan begitu, tapi sebelum dia protes tubuhnya sudah didorong secara kasar oleh Dewa ke atas kasur. Sehingga kini Wedi berada dalam posisitelentang, dengan rambut masih tertarik oleh tangan Dewa.

"Waa..! kamu kenapa sih? Wa ampun Wa..!" teriak Wedi merasakan tarikan di rambutnya. Dewa seperti tidak mengacuhkannya, dia naik berlutut di atas kepala Wedi dengan badan menghadap ke kaki. Dikeluarkan penis dari celananya dan dimasukkan ke dalam mulut wanita itu. "Bleep.. Wa.. Bleepp.." Wedi sepertinya ingin mengucapkan sesuatu tapi gerakan bibirnya itu malah membuat pijatan-pijatan di penis Dewa. Dewa merasakan penisnya disedot-sedot. Nikmat sekali rasanya. Dewa menaikturunkan penisnya sambil tangan satunya tetap menjambak rambut, dan satunya lagi menampar-nampar payudara Wedi yang masih tertutup gaun sekuatnya. Wedi merintih-rintih kesakitan. Tapi tetap saja rintihannya itulah yang membuat Dewa semakin bersemangat.

Dari tempat Dewa berlutut dia bisa melihat gaun tidur Wedi tersingkap, celana dalamnya yang berwarna putih transparan tak mampu menyembunyikan bukit kemaluannya yang montok dan tebal. Tangan kanan Dewa yang menampar payudaranya lalu dialihkan untuk menampar gundukan vagina yang tebal itu. Ditamparnya sekuat tenaga lubang kemaluan itu yang membuat tubuh bagian atasWedi terangkat setiap Dewa menamparkan tangannya. Hal ini makin membuat penis Dewa makin tersedot ke dalam tenggorokan Wedi sampai ke pangkalnya. Dan tiap kepala Wedi turun, tiap saat itu pula Dewa merasakan sedotan di penisnya itu makin keras sampai ke pangkalnya. Nikmatnya luar biasa. Penis Dewa kini semakin besar dan penuh, setiap gerakan yang dibuat Wedi makin terasa remasan di urat-urat kemaluan Dewa.

Dewa merasa penisnya sudah ereksi penuh. Dicabutnya penisnya lalu pindah menuju ke bawah selangkangan Wedi. Sepertinya dia tidak sabar lagi ingin menyelipkan penisnya ke lubang vagina Wedi yang belum terangsang itu. Dewa membayangkan betapa nikmat merasakan penis di antara vagina yang masih sempit itu. Ditariknya dengan sekuat tenaga celana dalam putih yang menutupi daerah kenikmatan wanita itu. Wedi berusaha menahan celana dalamnya agar tidak melorot.

"Wa.. aku belum siap..!" hanya lirih Wedi berkata, karena dia tahu itu akan sia-sia.

Dengan sekali tarik celana dalam itu langsung melorot. Dewa jadi semakin sangat terangsang saat melihat gundukan kemaluan Wedi yang lebat ditumbuhi rambut-rambut hitam keriting. Gundukan itu masih mengatup. Bibir kemaluannya masih rapat. Sangat nikmat bila bisa meneroboskan penis ke dalam vagina seketat ini. Dewa berlutut di depan selangkangan Wedi dan menggesekkan kepala penis ke klitoris Wedi. Uuhh gelinya..

Wedi semakin meronta dan mencoba duduk, tapi cengkeraman tangan Dewa pada pinggulnya membuatusahanya sia-sia belaka. Dewa sudah tidak sabar ingin menusukkan penisnya. Kedua tangannya memegang pinggul Wedi, sedangkan penisnya yang sudah tegak berdiri diletakkan tepat di depan lubang vagina Wedi. Tiba-tiba Wedi berteriak keras sekali. Rupanya Dewa berhasil menembus lubang kemaluan Wedi dengan penisnya. Secara cepat Dewa menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur. Sempitnya lubang vagina Wedi membuat penis Dewa seperti di remas-remas dan disedot-sedot. Nikmat-nikmat geli rasanya. Tulang-tulang penis Dewa seperti mau copot. Dewa memejamkan matanya menikmati isapan lubang kemaluan Wedi.

Rontaan Wedi melemah setelah beberapa saat. Kini dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menggigit bibirnya. Tak berapa lama Wedi mulai menggerak-gerakkan pinggulnya. Gerakan itu menambah sedotan yang dirasakan pada penis Dewa. Sepertinya Wedi sudah terangsang.

"Uhh.. sshh.." serunya sesak ketika batang kemaluan Dewa dihujamkan ke liang kenikmatan itu. Goyangan demi goyangan membuat erangannya semakin ganas. Tentu saja Dewa semakin beringas. Dia sangat ingin melihat Wedi kesakitan.

"Dewaa.. bajiingann!" untuk pertama kalinya Wedi mengumpat. Entah apa maksudnya. Dewa kini tidak tahu apakah wanita yang vaginanya sedang diisi oleh penisnya ini sangat menikmati permainan atau kesakitan. Kepalanya terlempar ke sana ke mari dan nafasnya mendesah hebat.

"Wed.. aku akan merobek punyaahh.. kamuu..Oughh.." seru Dewa ketika denyutan liang kemaluannya terasa sekali memijat batang kemaluan Dewa.
"Waa.. aku.. akan.. bunuh.. kamuu.. buu.nu.uuhh.."
"Silakan.. saajahh.."
Mereka berdua berbicara tak karuan.
"Oughh.. aihh.. sshh.." teriaknya menggelinjang sambil meremas-remas sisi ranjang.
"Waa.. kamu.. kamu.." dia tidak melanjutkan kata-katanya.

Tiba-tiba, "Waa.. Waa.. bajingan.. ah.." serunya keras sekali, sambil menggoyang pantatnya naik turun dengan cepat dan menari-nari seperti kilat. Bunyi becek di bawah sana menandakan dia telah orgasme dan memuntahkan cairan beningnya. Tapi goyangannya tidak surut. Dewa mencabut batang kemaluannya dan menyuruh Wedi membelakanginya. Dibukanya kedua paha Wedi, terlihat dari belakang vagina Wedi memerah karena gesekan-gesekan yang tadi terjadi, dan lendir mengalirkeluar dari belahan vaginanya. Tapi sasaran Dewa bukanlah lubang kenikmatan itu, Dewa menginginkan lubang yang lebih sempit. Diarahkan batang kemaluannya dari belakang. Dewa benar-benar ingin melihat Wedi menderita. Dipegangnya pantat Wedi dengan tangan kiri, dan tangan kanannya mengarahkan penisnya agar bisa masuk ke lubang anus Wedi.

Wedi menjerit saat anusnya ditembus penis Dewa. Mendengar itu Dewa malah semakin kesetanan. Diamenjambak rambut Wedi ke belakang hingga wajah Wedi menengadah ke atas. Kini tangan satunya meremas-remas payudara Wedi dengan kasar. Dicubit-cubit seluruh permukaan payudara Wedi hingga kebiru-biruan.

"Aduhh.. sudah dong Waa.. ampun.. sakit Waa.." Tapi Dewa tidak menghiraukannya.
"Oughh.. sempit sekali," teriak Dewa mengomentari lubang dubur Wedi yang lebih sempit dari vaginanya. Setiap Dewa menarik penisnya terlihat dubur Wedi monyong. Sebaliknya saat Dewa menusukkan penisnya, dubur Wedi menjadi kempot.

Dewa memajumundurkan penisnya dengan semangat. Terasa pijitan yang kuat diseluruh penisnya. Penisnya terasa seperti disedot-sedot oleh rongga anus Wedi. Secara cepat Dewa terus memompa penisnya keluar masuk hingga ke pangkal. Dewa memejamkan matanya meresapi kenikmatan yang dialami. Penisnya terasa disedot dan dikenyot. Nikmat sekali rasanya.

Kulit penis Dewa yang bergesekan dengan lubang anus Wedi memberikan perasaan gatal-gatal nikmat. Sambil merasakan sodokan demi sodokan kejantanan Dewa, Wedi mulai menggoyang-goyang, dan mengejang-ngejangkan otot lubangnya supaya Dewa merasakan senjatanya diurut-urut. Wedi kini mulai menikmati perlakuan kasar Dewa.

Dewa masih memajumundurkan penisnya selama kurang lebih selama sepuluh menit. Wedi merasakan lubang anusmya semakin panas dan semakin penuh. Terasa penis Dewa makin membesar dan ada denyutan di dalamnya, seperti ada lonjakan-lonjakan yang ingin dikeluarkan. Dewa memdesis, melenguh dan berteriak, lubang anus Wedi terasa semakin penuh.

"Oughh..!" Dewa mencapai orgasmenya. Wedi merasakan ada tembakan hangat di dalam perutnya. Badan Dewa mengejang, pantatnya menekan ke depan, lalu lemas, lunglai dan jatuh ke depan, menindih Wedi. Tubuh mereka berkeringat, basah sekali.

Dewa mencium bibir Wedi dengan lembut, kini mereka mulai berpagutan. Mereka berpelukan, tubuh mereka menyatu, dada mereka saling menekan. Penis Dewa yang mulai mengendur masih bergesekan dengan bibir vagina Wedi.

Dewa lalu menarik bibir dan tubuhnya. Sambil memakai baju dia berkata, "Entah bagaimana cara kamu, aku ingin setiap minggu kamu datang ke sini."
"Wa.. kalau kamu ingin begitu, aku bakal ngelakuinnya.." sambil menatap Dewa dengan tatapancinta. Dia memang benar-benar mencintai Dewa. Apapun rela dia perbuat untuk Dewa.

Setelah berpakaian Dewa segera meninggalkan kamar itu. Di luar lalu dia berkata dalam hati,"Wanita keparat! Aku akan merobek vaginamu setiap minggu. Lalu setelah kita kawin, aku akan membunuhmu. Itu balasan yang setimpal buatmu," Dewa masuk ke selnya setelah digoda terlebih dahulu oleh sipir yang disuap Wedi. "Wa.. Asyik niyee..!"

TAMAT


Kisah Perbudakan Ratih - 1

0 comments

Temukan kami di Facebook
Belakangan ini Surya mulai mencurigai ada yang tidak beres dengan istrinya, Ratih. Sudah sebulan ini dia selalu menolak setiap kali diajak bersetubuh. Berbagai alasan dikemukakan Ratih, mulai dari capek, sedang datang bulan, hingga sedang tidak bernafsu. Pernah beberapa kali setelah melalui sedikit perdebatan, Ratih bersedia melayaninya. Namun hubungan itu berlangsung dengan dingin. Dia tidak mengimbangi setiap gerakannya, melainkan hanya membiarkan saja Surya menggerayangi tubuhnya tanpa melakukan gerakan balasan. Bahkan sempat-sempatnya Ratih menguap beberapa kali ketika itu. Bila sudah begini maka gairah Surya pun langsung lenyap, dan akhirnya dia tertidur dalam kekecewaan.

Pagi ini setelah tiba di kantor, dia meminjam mobil stafnya, dan kembali ke rumah sambil membawa videocam yang sudah disimpannya beberapa lama ini di lemari kantornya. Dia ingin mengamati apa saja yang dilakukan istrinya sepanjang hari, sehingga begitu capek untuk melayaninya di malam hari.

Di depan rumah dia menjalankan mobilnya dengan sangat lambat agar dapat memperhatikan. Tidak terlihat adanya tanda-tanda kesibukan. Pintu pagar tertutup dan halaman tampak kosong. Diarahkannya mobil ke sebuah taman yang berada sekitar 50 m dari rumahnya. Disana tampak parkir sebuah kijang kosong yang belum pernah dilihatnya. Jelas bukan milik warga sekitar.

Dilewatinya mobil itu mengelilingi taman, lalu memarkirkannya di sisi lain. Diraihnya tas jinjing berisi videocam yang tergeletak di jok di samping. Setelah mengunci pintu, dia beranjak menuju ke rumah. Dengan hati-hati dibukanya pintu samping pekarangan, lalu masuk sambil mengendap-endap. Dia segera menyusuri celah antara dinding samping rumah dengan tembok pemisah ke rumah tetangga. Tiba di belakang, langkahnya makin hati-hati, bahkan dia melepaskan sepatunya agar tidak menimbulkan bunyi.

Tiba-tiba dia terkesiap kaget. Dia mendengar istrinya bersuara manja.
"Cepetan dong, Ton! Kamu tega deh, dicabut-cabut melulu!" Suara itu begitu mesra dan menggemaskan.
Jantungnya berdetak dengan cepat dan wajahnya langsung merah membara. Beribu pertanyaan memenuhi kepalanya.
"Ton? Siapa si Ton itu? Sedang apa mereka?"
Surya segera mendekatkan dirinya ke dinding di bawah jendela kamarnya.
"Sabar, dong, manis..! Kalau cepat-cepat nanti tidak puas, he, he, he.." terdengar suara lelaki menyahuti istrinya.
"Tidak salah lagi! Pasti! Pasti mereka sedang melakukannya. Kurang ajar!" ujar Surya di dalam batin.

Dia segera menyiapkan videocamnya dengan tergesa-gesa, takut kehilangan bukti. Diamatinya kondisi jendela mencari posisi teraman untuk mengintip kejadian di dalam. Surya kemudian berdiri di samping jendela, lalu mengintip ke dalam melalui videocamnya. Darahnya terasa mendidih melihat istrinya sedang ditindih dalam oleh seorang pria, keduanya telanjang bulat. Segera ditekannya tombol record. Pria itu kini sedang menyodok-nyodokkan penisnya ke dalam vagina istrinya sambil mulutnya menghisap puting susu sebelah kanan, sementara tangannya mempermainkan puting susu yang sebelahnya.

Darah Surya serasa sudah sampai di ubun-ubun. Seluruh tubuhnya bergetar menahan marah. Tanpa sengaja gagang videocam itu membentur kaca jendela, menimbulkan bunyi yang cukup keras. Surya kaget dan segera menarik viodeocam-nya. Namun ternyata bunyi tadi itu pun telah cukup untuk mengagetkan juga kedua orang yang diintainya itu. Mereka segera mengarahkan pandangan ke jendela. Terdengar suara istrinya berteriak, "Siapa?"

Setelah mematikan perekam, Surya meletakkannya dengan hati-hati di lantai. Merasa telah terbongkar pengintaiannya, disertai dorongan amarah yang telah dipendamnya sejak tadi, Surya menampakkan diri di jendela.
"Aku..! Kurrang ajar..!" bentak Surya.
Kedua orang itu kaget bukan kepalang dan langsung bangkit kalang-kabut. Istrinya segera menyilangkan tangan di depan dadanya sambil merapatkan paha mencoba menutupi ketelanjangannya. Sementara itu si lelaki telah langsung menyambar dan mengenakan celananya lalu sambil berusahan memakai kemejanya sambil berlari tergesa-gesa.

Surya berteriak menyuruh berhenti sambil memaki-maki, namun tidak diperdulikannya. Surya berusaha menyusul melalui gang samping yang dilaluinya tadi. Mereka tiba di pekarangan depan hampir bersamaan. Lelaki itu mendadak berputar dan melayangkan sebuah bogem mentah ke wajah Surya yang langsung kena secara telak, karena tidak menduganya. Lelaki itu melayangkan tinjunya sekali lagi, sehingga Surya terhuyung roboh. Melihat itu, dia berbalik dan segera melanjutkan larinya meninggalkan rumah.

Surya berusaha bangkit, namun gerakannya terlalu lambat. Ketika dia mencapai pintu gerbang, ternyata pria itu telah berada di dalam mobilnya. Segera terdengar deru mesin, dan baru beberapa langkah yang sempat dilakukan Surya, mobil itu sudah kabur meninggalkan taman. Surya menghempaskan tangan dengan kesal. Kemudian dia bergegas kembali ke dalam rumah.

Begitu memauki kamar, Ratih yang belum sempat mengenakan pakaian luar segera menjatuhkan diri berlutut menyembahnya sambil menangis terisak-isak memohon ampun. Surya menghampiri dengan cepat, dan, "PAR..! PAR..!" telapak tangan Surya mendarat keras di wajah Ratih yang secara reflek segera mengangkat kedua tangan menutupi wajahnya. Tangisnya kian menjadi-jadi. Namun Surya tidak memberi ampun. Dijambaknya rambut Ratih sambil melontarkan makian.

"Lonte kamu! Kurang ajar! PAR..!" kembali Surya mengayunkan tangannya.
"Amm.. puun.., Mas.., ampuunn..!"
"Ternyata benar dugaanku selama ini! Pantas saja kamu selalu menolakku, rupanya sepeninggalku kamu melonte! Berapa kau dibayarnya, Lonte..?"

Ratih tidak mampu menjawab apapun. Dia hanya terus menangis dan meratap meminta pengampunan dari suaminya. Surya tidak perduli dan terus mengumbar kemarahannya. Direngutnya BH Ratih hingga tali bahunya putus dan kaitan di belakangnya robek, kemudian dicampakkannya ke lantai. Dijambaknya rambut Ratih dengan keras, sehingga dia terpaksa berdiri. Tangannya segera menyambar celana dalam Ratih dan menurunkannya dengan paksa.

"Munafik kamu! Buat apa kamu pakai pakaian? Toh kamu membiarkan lelaki lain melihatmu telanjang. Ayo keluar, sekalian saja biar semua orang melihatmu telanjang..!"
"Ampuun Mas, ampun..! Jangan, Mas..! Ampuni saya, Aduh! Ampunn..!"
Surya menyeret Ratih pada rambutnya ke arah pintu. Ratih menjerit kesakitan, dan memegang tangan Surya yang mencengkeram rambutnya.

"Ayo!" paksa Surya.
Ratih terus menahan tarikannya. Surya makin tidak sabar dan mengayunkan kakinya. Tendangannya telak mengenai perut Ratih. Ratih mengaduh memegangi perutnya dengan sempoyongan. Melihat itu Surya melepaskan jambakannya. Pandangan Ratih berkunang-kunang lalu roboh di lantai. Surya hanya melotot membiarkannya. Diamatinya wanita itu untuk melihat perkembangannya. Ternyata Ratih tidak pingsan. Dia hanya megap-megap meringkuk di lantai mendekap perutnya.

"Lonte! Kamu harus menerima pembalasan yang sesuai untuk kebejatanmu ini!" lanjut Surya sambil berkacak pinggang di hadapannya. Suaranya sudah tidak sekeras tadi, namun penuh ancaman.
"Ampu.. ni.. sa.. ya, Mas..!" kata Ratih terbata-bata. "Saya to.. bat, sung.. guh.., ampun, Mas..!"
"Tobat? Ampun..? Kamu pikir segampang itu?"
"Hukum saya, Mas, apa saja! Akan saya terima..!"
"Tentu, kamu memang harus dihukum!"
Surya diam sejenak. Keningnya berkerut, lalu lanjutnya, "Hukumanmu harus sangat berat..! He, Lonte, kamu siap menerima hukumanmu?"
"Iya, Mas. Saya mengaku salah! Saya siap dihukum apa saja!" sahut Ratih bersungguh-sungguh.
"Jadi kamu sudah mengaku salah, ya?" ulang Surya.
Mendadak dia teringat sesuatu.
"Hmm.., sebaiknya pengakuanmu ini kurekam, supaya ada bukti kalau kamu macam-macam lagi!" tandasnya sambil bergegas keluar menuju belakang dan kembali dengan membawa videocam.

"Baik, jadi kamu mengakui semua kesalahanmu?"
Ratih mengangguk pelan.
"Jawab!" bentak Surya.
"I.. iya, Mas. Saya salah! Saya siap menerima hukumanmu!"
"Hmm..! Sekarang ambil lipstik dan tuliskan di badanmu, LONTE!" perintah Surya.
Ratih terperanjat. Surya menatapnya dengan dingin. Ratih paham, bahwa hanya itulah cara untuk mendapatkan pengampunannya.

Maka dia beranjak ke meja rias, mengambil lipstik dan menuliskan kata LONTE di badannya, persis di bawah payudaranya. Sementara itu Surya telah menyalakan videocamnya dan merekam perbuatan Ratih. Setelah selesai, dimatikannya alat itu. Surya pergi ke brankas di sudut kamar dan segera kembali membawa sebuah kertas segel beserta pen dan disodorkan kepada Ratih. Tanpa pikir panjang maupun perdebatan, Ratih menulis semua kalimat yang didiktekan suaminya. Setelah Ratih selesai menandatangani surat itu, Surya menyalakan kembali alat perekamnya dan memerintahkan Ratih membacanya.

Bersambung . . . ..


Kisah Perbudakan Ratih - 2

0 comments

Temukan kami di Facebook
SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini;
Nama: Ratih Puspaningrum
Tempat/tgl. lahir: Cirebon, 15 Maret 1968
Untuk selanjutnya disebut sebagai pihak pertama, merupakan istri sah dari:
Nama: Surya Hadibrata
Tempat/tgl. lahir: Jogjakarta, 27 Juli 1966
Untuk selanjutnya disebut sebagai pihak kedua.

Saya sebagai pihak pertama mengakui secara sadar, bahwa telah mengkhianati kesucian perkawinan saya dengan pihak kedua dengan melakukan perbuatan serong bersama seorang laki-laki bernama ANTON BAGASPATI. Karenanya saya telah menjadikan diri saya lebih hina daripada pelacur, sebagaimana yang telah saya tuliskan sendiri di badan saya ini, LONTE.

Menyadari aib yang telah saya lakukan tersebut, saya ikhlas menerima segala hukuman yang akan dijatuhkan oleh pihak kedua tanpa keberatan apapun. Saya menyerahkan diri saya sepenuhnya, jiwa dan raga ke dalam kendali pihak kedua. Dengan demikian pihak kedua bebas melakukan segala sesuatu yang dianggapnya perlu terhadap saya, baik secara jasmani maupun rohani.

Segala perbuatan pihak kedua terhadap saya kelak tidak akan dapat dituntut baik secara hukum, agama, moral, maupun adat istiadat dan sebagainya oleh siapapun juga. Dengan ini juga saya mengijinkan pihak kedua menggunakan peralatan apapun dan juga mengijinkannya melibatkan siapa pun yang dinginkannya untuk membantu pihak kedua menjatuhkan hukuman terhadap saya. Pernyataan ini saya buat dalam keadaan sehat jasmani maupun rohani, serta atas kesadaran saya sendiri tanpa paksaan/tekanan dari pihak manapun. Karenanya memiliki kekuatan hukum yang tetap dan berlaku mulai sejak saat surat ini saya tandatangani.

Ditandatangani di Jakarta, tanggal 25 September 2001,
Pihak Pertama: Ratih Puspaningrum
Pihak Kedua: Surya Hadibrata

*****

Selama membacanya, sesekali Ratih berhenti untuk mengambil napas. Berulang-ulang dia menyeka air mata yang mengalir di kedua pipinya. Selesai membacakan surat pernyataan itu, atas perintah Surya dia mengacungkan surat tersebut di depan dadanya. Surya mengatur zoom agar dapat menangkap jelas tulisannya. Surya tersenyum puas. Dimatikannya videocam, dan diambil serta dilipatnya surat itu dengan rapih. Kemudian dia kembali ke brankas menyimpan surat beserta videocamnya.

Ratih kembali menangis terisak-isak menyesali perbuatannya. Dia mulai membayangkan hukuman apa gerangan yang kelak akan diterimanya. Dia bergidik ngeri mengingat kalimat yang dibacakannya tadi, terutama tentang akan dipergunakannya segala macam peralatan, cara, dan bahkan melibatkan pihak ketiga. Namun segalanya sudah terlanjur. Dia sudah memberikan keleluasaan yang seluas-luasnya bagi Surya untuk melampiaskan kemarahannya. Ratih menyadari betapa dia telah menandatangani kematiannya secara perdata. Kini dia harus siap untuk memulai babak baru dalam kehidupannya.

"Saya harap kamu tidak melakukan kebodohan. Ingat, saya telah merekam semuanya. Jika kamu melanggar, maka rekaman itu akan saya sebarkan kepada semua keluarga dan kenalanmu. Bahkan mungkin akan saya sebarkan juga melalui internet!" ancam Surya mengingatkan, sekembalinya dari brankas.
Dia tidak mengacuhkan Ratih yang mengganggukkan kepala dengan cepat, takut kalau-kalau Surya segera melaksanakan ancamannya. Namun Surya tidak butuh anggukan Ratih. Dia sudah sangat yakin bahwa wanita itu tidak akan berani berbuat macam-macam.

Surya meninggalkan kamar, menuju ke ruang makan. Diambilnya gelas, dan setelah diisi dengan air dari dispenser, dibawanya ke ruang tamu. Surya duduk merenungkan semua kejadian tadi. Lalu dia teringat bahwa dia harus kembali ke kantor untuk mengembalikan mobil stafnya. Disamping itu, dia merasa membutuhkan udara segar untuk menenangkan hatinya.

"Tapi bagaimana kalau saya tinggal? Macam-macam enggak dia nanti?" pikirnya mempertimbangkan resiko meninggalkan Ratih sendirian di rumah setelah kejadian ini.
"Ah.., mana dia berani!" Surya menyakinkan diri mengingat dia telah memiliki senjata ampuh untuk mengendalikannya, surat Pernyataan dan rekaman video tadi.
"Sebaiknya bukti tersebut kuamankan!" katanya pada diri sendiri.

Surya lalu kembali ke kamar. Ratih yang telah berpakaian lengkap segera menyongsong kehadirannya sambil berusaha tersenyum dan menyapa ramah. Surya mengacuhkan sambutannya. Dia langsung menuju brankas mengambil barang-barang berharga tadi. Lalu dia menekankan agar Ratih tidak meninggalkan rumah maupun melakukan perbuatan bodoh lainnya sepeninggalnya nanti. Ratih segera mengiyakan dengan penuh kesungguhan.

Meski agak ragu, Surya melangkah meninggalkan rumahnya. Setibanya di kanrtor, dia mengembalikan kunci mobil itu kepada Daru dan menyatakan bahwa masih ada urusan keluarga yang harus diselesaikannya hari ini. Surya meminta stafnya itu untuk menunda jadwal kegiatannya hari ini hingga Senin nanti. Setelah menyimpan surat Pernyataan beserta videocam di lemari kantornya, dia pergi kembali meluncur di jalan raya.

Dia berhenti dan memarkir kendaraannya di sebuah restoran. Sambil menikmati hidangan, Surya memikirkan langkah berikutnya. Dia tidak dapat memaafkan perbuatan istrinya. Semua kesalahan harus mendapatkan hukumannya. Ya.., Surya telah mengambil keputusan untuk memberikan hukuman yang tidak akan terlupakan. Teringat bahwa dia tidak memiliki perlengkapan apapun untuk melaksanakannya, dia segera menghabiskan hidangannya dan beranjak meninggalkan restoran itu.

Surya berputar-putar di jalan raya mencari tempat yang menyediakan barang-barang kebutuhannya. Akhirnya dia berhenti di depan sebuah toko material. Di sini dia membeli tambang yang diameternya kira-kira 1,5 cm sepanjang 10 meter. Dia belum tahu persis apa yang akan dilakukannya dengan tali sepanjang itu, yang penting beli dulu. Dibelinya juga seperangkat rantai anjing, 2 set gembok, 5 meter rantai yang agak tebal, dan beberapa sekrup yang ekornya melengkung berbentuk seperti tanda tanya.

Hari sudah malam ketika Surya kembali tiba di rumahnya. Ratih segera membukakan pintu menyambut kepulangannya. Surya menggapaikan tangan memanggilnya, dan memerintahkan dia untuk membawa masuk kantongan plastik berisi barang belanjaannya tadi. Ratih menurut dengan patuh.

"Makan dulu, Mas?" tanya Ratih setelah mereka tiba di dalam rumah.
Surya hanya mendengus dingin dan malah memerintahkan Ratih menanggalkan seluruh pakaiannya.
"Selama aku di rumah, kamu harus telanjang bulat, mengerti!"
Takut akan membangkitkan kemarahannya, wanita itu segera melepaskan semua pakaian yang dikenakannya, juga BH dan celana dalam. Kemudian dia berdiri mematung di hadapan Surya. Melihat tidak ada perintah susulan, dia kembali mengulangi ajakannya.
"Saya sudah siapkan makanan kesukaan Mas. Kita makan yuk, aku sudah lapar."

"Kau saja. Aku sudah!" sahut Surya setelah menimbang-nimbang beberapa lama.
Bagaimanapun wanita itu harus makan. Kalau dia sampai sakit dan harus dirawat di rumah sakit, maka berarti penundaan atas rencana hukumannya. Ratih masih berusaha membujuk Surya agar bersedia memakan masakannya. Namun setelah Surya menunjukkan ketidaksukaannya, akhirnya Ratih menyerah. Dia beranjak ke meja makan, dan menarik bangkunya, namun Surya melarangnya.
"Jangan! Kamu tidak layak duduk di bangku. Mulai saat ini tempatmu di lantai. Ayo turun!"

"Aduh! Mati Aku! Hukuman sudah dimulai." Ratih membatin ketakutan.
Jantungnya berdebar kencang. Dia berusaha tidak mempercayai pendengarannya. Namun sorot mata Surya yang demikian dingin tanpa kompromi memaksanya untuk mempercayai kenyataan yang dihadapinya. Sambil menundukkan kepala, Ratih menuruti perintah Surya. Didorongnya lagi bangku itu. Lalu dia mengambil piring, namun lagi-lagi terdengar suara Surya.
"Kurang ajar! Beraninya kamu memakai piring saya?" Ratih menatapnya dengan heran.
"Semua barang di sini milik saya, mengerti? Kamu tidak boleh memakai apa pun milik saya! Pakai saja celana dalammu sebagai piring, kamu mengerti!"

Ratih masih terpaku tidak mengerti. Surya memungut benda yang disebutkannya tadi dari lantai dan melemparkannya ke dekat kaki Ratih.
"Cepat!" bentak Surya menyadarkannya.
Ratih menggeleng dan menggenggam benda itu.
"Aku tidak usah makan saja, Mas!" tolaknya.
"Makan!" paksa Surya.
"Mmm.., enggak usah lah, masih kenyang."
"Melawan, ya?" suara Surya meninggi, "Rupanya kamu ingin segera jadi artis? Oke, akan segera saya siarkan rekamanmu tadi di internet!" ancamnya.
"Mungkin adikmu Sari juga akan kukirimi email."
"Jangan, Mas! Jangan! Aduh! Baiklah.., baiklah, aku makan. Maaf, Mas!" potong Ratih sambil segera mengembangkannya di atas telapak tangannya.

Surya tersenyum melihat ancamannya berhasil. Sementara itu Ratih mulai menyendokkan nasi beserta lauk-pauknya ke atas celana dalamnya itu. Kemudian dia duduk bersimpuh di lantai, dan mulai menyendoki makanan itu dengan tangannya. Dia tidak dapat menyembunyikan rasa jijik dan terhinanya. Ditabahkannya diri dan terus memasukkan makanan dari celana dalamnya itu ke dalam mulutnya. Semuanya berlangsung di bawah pengawasan Surya. Ketika dia akan mengambil minum, maka Surya menyuruhnya menggunakan BH yang tadi dipakainya sebagai gelas. Ratih melaksanakannya, dan tentu saja akibatnya banyak air yang menetes ke lantai.

"Jorok! Minum saja tidak becus. Bersihkan! Jilat dengan lidahmu!" hardik Surya.
Ratih merintih dalam hati. Tidak disangkanya Surya begitu tega menghina dirinya. Air matanya menetes saat dia melaksakan perintah itu. Dari sudut matanya dia melihat Surya tersenyum bangga menikmati penderitaan yang diakibatkannya.

Kehidupan baru Ratih telah dimulai. Surya memasukkannya ke dalam kamar mandi yang terdapat di kamar tidur mereka. Setelah mengikat kedua pergelangan tangannya ke belakang punggung, dia lalu mengunci pintunya dari luar. Hal ini dilakukan untuk mencegah segala resiko. Bagaimanapun dia merasa perlu untuk mewaspadai wanita ini. Dia sadar betul betapa orang nekat dapat melakukan segala hal yang tidak terduga.

Ratih meratap memohon sedikit keringanan dari Surya, namun sia-sia. Dia terus meratap tanpa mendapatkan tanggapan. Ketika dia sudah hampir putus asa, mendadak pintu terbuka. Harapan kembali tumbuh. Namun ternyata dugaannya meleset. Surya kembali bukan untuk membebaskannya, melainkan hanya untuk meningkatkan hukumannya. Diputarnya keran air hingga mengucur deras mengisi bak yang sudah hampir penuh. Kembali Surya keluar meninggalkannya terkurung di sana.

Kini suara ratapannya tersamar oleh bunyi deburan air. Ratih memandangi kucuran air itu dengan ngeri. Sebentar lagi bak akan penuh, kalau kerannya tidak ditutup, maka air itu akan membasahi lantai dan mengguyur badannya yang telanjang. Ketika yang ditakutkannya terjadi, dia kembali memanggil-manggil Surya tanpa hasil. Air mulai menggenang menjangkau kakinya. Malam yang telah dingin makin bertambah dingin. Ratih merasa sangat lemah. Kakinya sudah tidak kuat menahan tubuhnya. Perlahan-lahan dia merosot di dinding ruangan, lalu terjatuh, jongkok di lantai. Hal ini tidak berlangsung lama. Dia berusa untuk berdiri lagi, namun tidak mampu, dan akhirnya pantatnya langsung menyentuh lantai.

Ini merupakan malam terpanjang dan paling menyiksa yang pernah dialami oleh sesosok tubuh bernama Ratih.

Bersambung . . . . . .


Kisah Perbudakan Ratih - 3

0 comments

Temukan kami di Facebook
MENCARI MISTRESS

Malam telah berlalu. Ratih sudah dibebaskan dan melaksanakan aktifitas sehari-harinya mengurus rumah seperti biasa. Bedanya adalah hari ini dia melakukannya sambil bugil, sebab Surya tetap tinggal di rumah. Sabtu memang merupakan hari libur di kantornya.

Surya menyalakan komputernya dan berseluncur di dunia maya. Melalui mesin pencari, dia berhasil menemukan beberapa situs yang sesuai dengan tujuannya. Dia mulai mengenal istilah BDSM. Dengan penuh perhatian diamatinya setiap foto tentang penyiksaan terhadap wanita. Berulang-ulang dia berdecak kagum menikmati wajah-wajah memelas tidak berdaya yang sedang diikat dan disiksa berbagai rupa. Dia merasa begitu bergairah, begitu liar, "haus". Pengembaraannya terus berlangsung hingga suatu ketika dia memasuki sebuah komunitas yang menamakan dirinya "Perbudakan Sex Indonesia".

"Hmm.., ternyata banyak juga penganut BDSM di Indonesia ini." pikirnya penuh takjub membaca pesan-pesan pada messageboard situs yang beralamat di salah satu situs perbudakan tersebut.
"Aha.., ada pemesanan VCD-nya juga, nih!" Surya melonjak kegirangan.
Segera saja dia melihat-lihat screenshot dari masing-masing judul VCD-BDSM yang ditawarkan itu. Dipilihnya beberapa judul yang cocok dan melakukan pemesanan.
"Saya harus memilikinya!" pikirnya.
"Akan banyak teknik yang dapat saya pelajari."

Tidak terasa telah berjam-jam Surya berseluncur dengan asyiknya. Belum pernah setekun ini dia di internet. Dan ketika keasyikannya terganggu oleh kedatangan Ratih yang memberitahukan bahwa makan siang telah siap, dia pun menghadiahinya sebuah tamparan keras diiringi caci-maki.

Seusai makan siang, Surya bergegas kembali meneruskan penjelajahannya. Kali ini dia memanggil Ratih dan menyuruhnya mengamati foto-foto itu. Ratih bergidik ngeri ketika melihatnya. Dia memalingkan mata tidak kuat melihat pemandangan di hadapannya, namun Surya justru kesenangan dan memaksanya untuk terus menatap layar monitor sambil menjanjikan akan segera mempraktekkannya. Bahkan dia disuruh memilih mana yang menurutnya paling menarik untuk acara nanti malam.

Atas desakan itu, Ratih hanya mengangguk setiap kali ditanyakan apakah foto di hadapannya menarik.
"Yang ini..? Oke.., kita simpan! Hmm.., nanti kita coba pilihanmu ini." kata Surya sambil menyimpan semua yang diiyakan Ratih itu di dalam hardisknya.

Matahari mulai menggelincir turun di ufuk Barat. Surya memerintahkan Ratih untuk mandi dan mengatakan ada tugas yang harus dilaksanakannya. Selesai mandi Surya menyuruhnya mendekat, kemudian mencabut tutup spidol berwarna merah dan mulai menggoreskan tulisan di badan Ratih. Melingkar di sekitar puting sebelah kanannya dia menuliskan kata "MILIK", sedangkan di sebelah kanan adalah "SURYA", dan dilanjutkan dengan "LONTE" di bawah payudaranya, sedikit di atas pusar. Surya menjelaskan bahwa itu akan mengingatkannya tentang siapa dirinya ketika sedang bertugas nanti. Selain itu juga akan mengurungkan niatnya untuk coba-coba berbuat serong lagi.
"Siapa tahu?" ujar Surya sinis.

Berikutnya Surya mengambil celana dalamnya dari tumpukan pakaian kotor dan menyerahkannya pada Ratih.
"Pakai punyaku ini, agar kalau kamu mengangkat rokmu pada siapa pun, maka mereka akan melihatnya, dan segera menyadari bahwa kamu sudah ada yang punya!" perintahnya.
Meski merasa aneh, Ratih menurut dan mengenakan celana dalam Surya itu. Untunglah dia diijinkan memakai pakaian luar sepantasnya sebagai pembungkus tubuhnya.

Sekitar pukul 18.00 Ratih meninggalkan rumah melaksanakan tugasnya. Dia mengarahkan kendaraan ke sebuah NightClub sebagaimana yang telah diperintahkan. Misinya adalah mencari seorang wanita penghibur untuk menjadi bintang tamu dalam acara penghukumannya nanti. Begitu terhinanya perasaan Ratih, disuruh mencari dan memilih sendiri seorang pelacur yang akan mendampingi suaminya dalam menyiksa dirinya. Namun dia tidak punya pilihan lain. Dia tidak ingin rekaman bugilnya tersebar di internet, disaksikan oleh masyarakat luas. Bagaimana kalau ada diantara mereka yang mengenalnya? Apalagi kalau sampai keluarganya tahu, dia tidak berani membayangkannya.

Ratih telah memasuki pelataran parkir, namun ragu-ragu untuk turun. Mesin mobil sudah dimatikan, dan dia duduk saja dengan gelisah di dalam mobil. Matanya berkeliaran mencoba menemukan wanita muda yang sedang sendirian di sekitar situ. Agaknya Ratih sedang beruntung. Tidak terlalu lama menanti, dia melihat seorang wanita sedang berjalan sendirian menuju ke pintu masuk. Badannya langsing berisi. T-Shirt tanggung ketat yang dikenakannya menyebabkan tonjolan kedua payudaranya terbayang nyata. Demikian juga dengan pinggulnya, begitu padat mendongakkan rok span yang membungkusnya. Ratih yakin, setiap pria pasti akan tergoda untuk menjamahnya.
"Mas Surya pasti akan senang!" katanya dalam hati sambil bergegas turun dan setengah berlari mengejar wanita itu.

"Eh, maaf! Bisa bicara sebentar?" tanya Ratih segera setelah berhasil menghadang jalannya.
Wanita itu berhenti melangkah dan memandangnya dengan heran.
"Siapa, ya?" tanyanya ragu.
"Hmm.., maaf mengganggu anda. Bisa kita bicara sebentar? Saya, ngg.., saya membutuhkan bantuan anda." bujuk Ratih hati-hati.
"Anda siapa?" tanyanya lagi dengan pandangan curiga.
"Ratih! Hmm.., tidak apa-apa, jangan takut. Saya sendirian." sahut Ratih menenangkan. "Saya sangat mengharapkan pertolongan anda, please?" bujuknya.
Wanita itu mengangkat bahu menunjukkan ketidakmengertiannya.

"Jika anda tidak keberatan, mari kita ke cafe agar dapat berbicara sejenak, oke?" desak Ratih terus. Wanita itu melirik ke arlojinya. "Please..?" bujuk Ratih lagi.
Akhirnya wanita itu mengalah. Mereka masuk ke dalam cafe dan memesan minuman ringan.

Setelah saling memperkenalkan diri dan sedikit berbasa-basi, mereka membisu. Wanita yang menyebut dirinya Lisa itu memandangi Ratih dengan bingung. Tampak benar dia sedang menunggu penjelasan. Dipandangi terus seperti itu menyebabkan Ratih tidak tenang. Dia kehilangan kata-kata untuk menyampaikan maksudnya. Ratih berusaha menutupi kegelisahannya dengan menghirup minumannya berulang-ulang.

"To the point aja, Mbak, apa maksud semua ini?" desak Lisa tidak sabar.
Ratih makin gelisah. Diambilnya napas panjang untuk mendapatkan kekuatan, namun dengan kecewa dihembuskan kembali. Diulanginya lagi, berkali-kali.
"Ada apa sih, Mbak? Kalau enggak ada, ya udah..!" kata Lisa mulai kesal sambil mengambil ancang-ancang hendak berdiri.
"Eh.., ngg.., enggak..!" Ratih gelagapan dan buru-buru menggenggam tangan Lisa untuk mencegahnya beranjak pergi.

Kembali ditariknya napas panjang-panjang menghimpun semua keberanian.
"Jangan pergi dulu, Dik! Ngg.., baiklah.., ngg.." Ratih tampak serba salah.
"Sebelumnya saya minta maaf telah mengganggu Adik." Lisa memang tampak lebih muda darinya.
"Sekali lagi maaf kalau kurang sopan, tapi sungguh saya sangat perlu mengetahuinya, ngg.., apakah Adik, Adik sudah menikah?" lanjut Ratih.

Lisa terperanjat dan menyentakkan tangannya dari genggaman Ratih, kemudian memandang dengan tajam. Suasana hening. Ratih tidak kuat melawan tatapan itu dan lalu menundukkan kepalanya sambil kembali meminta maaf.
"Untuk apa Mbak menanyakannya?" tanyanya menyelidik.
Ratih merasa serba salah dan terdiam. Tapi ketakutan akan resiko bila gagal memaksanya untuk berusaha.
"Ngg.., ya.., maaf, Dik! Mmm.., ini perlu sekali..!"
"Tapi untuk apa..?"

Kembali Ratih mereguk jus alpukat di hadapannya.
"Ngg.., ini.., ini berkaitan dengan.. bantuan yang saya harapkan dari Adik. Saya sangat membutuhkan bantuan Adik.."
"Apa hubungannya dengan pernikahan saya..?" potong Lisa semakin penasaran.
"Ngg.., karena.., karena pasti Dik Lisa tidak akan mau membantu saya.., kalau Adik belum pernah.."
"Apa sih maksud Mbak..?" suara Lisa mulai meninggi.
"Aduh.., maaf Dik! Maaf..! Saya bukan bermaksud menghina Adik. Hanya saja saya butuh bantuan Adik untuk.., untuk.., untuk.." Ratih tidak berani melanjutkan kata-katanya.
"Untuk apaa..?" desak Lisa semakin tidak sabar.
"Untuk.., ngg.., maaf Dik! Untuk.. suami saya..!" jawab Ratih lirih seraya menundukkan wajahnya dengan cemas.

"Apa..?" jerit Lisa tidak percaya sambil menegakkan badannya setengah berdiri.
Wajahnya tampak memerah. Menyadari teriakannya tadi menarik perhatian pengunjung lainnya, dia kembali duduk.
"Iya, Dik..! Sekali lagi maaf, kalau kata-kata saya menyinggung Adik."
Suasana kembali hening. Ratih mendengar dengan jelas detak jantungnya yang berdegup kencang. Kedua tangannya dikatupkan di atas meja, dan bergerak-gerak tidak menentu. Dia begitu gelisah menunggu jawaban Lisa. Sesekali diangkatnya wajah memandangi Lisa secara sembunyi-sembunyi. Lisa mengawasi setiap gerakan Ratih dengan cermat. Setelah mempertimbangkan beberapa saat, dia sadar bahwa wanita itu benar-benar sangat mengharapkan jawabannya.

Akhirnya Lisa menghela napas dan menjawab, "Iya, saya sudah pernah menikah."
Ratih mengangkat wajahnya sambil menahan napas menantikan kelanjutannya.
"Tapi sekarang sendiri lagi.., biasa, tidak cocok!" lanjut Lisa sambil tersenyum acuh.
"Ah..!" sahut Ratih lega.
"Mengapa, Mbak?"
"Begini.., saya lega karena sepertinya Adik orang yang tepat.., untuk.. menolong saya."
Lisa memandangi Ratih dengan tajam, menuntut penjelasan.

"Sebelumnya maaf, kalau kata-kata saya akan membuat Adik tersinggung." lanjut Ratih.
Lisa tidak berkomentar, tapi sorot matanya kian tajam. Ratih kembali melanjutkan, "Apakah.., mm.. Adik, ngg.., apakah Adik bersedia ngg.., ikut dengan saya!"
"Kemana? Untuk apa?" tanyanya setelah berpikir sejenak.
Pandangannya tidak pernah lepas dari wajah Ratih.
"Ke rumah saya."
"Mengapa?"
Ratih kembali kehilangan keberanian untuk mengungkapkannya. Namun mengingat betapa akan murkanya Surya jika dia gagal melaksanakan kewajibannya, maka dia berusaha mengumpulkan keberaniannya.

Setelah menarik napas panjang beberapa kali, akhirnya dia menyampaikan tujuan utamanya.
"Begini, Dik..!" ucap Ratih setelah menarik napas dalam-dalam. "Saya ingin meminta pertolongan Adik, mm.., untuk menemani suami saya."
Lisa terheran-heran. "Menemani bagaimana?" tanyanya penasaran.
"Menemani.., yah.." Ratih mengangkat kedua bahunya. Dia bingung bagaimana cara menjelaskannya.
Akhirnya setelah berpikir keras, akhirnya dia melanjutkan, "Saya telah berbuat kesalahan besar. Mas Surya tidak sudi lagi melakukannya denganku. Dia akan menceraikan saya jika tidak dapat mencarikan wanita lain untuk.., untuk melayaninya, menggantikanku."

Lisa tercengang mendengar penuturan itu. Dia tidak percaya pada pendengarannya.
"Apa saya tidak salah dengar? Mbak meminta saya untuk melayani suami Mbak? Ah, yang benar saja, Mbaak..?"
"Benar, Dik! Saya sangat mengaharapkan kesediaan Dik Lisa."
"Hmm.." Lisa merenung sejenak. "Serius..? Apa benar Mbak rela suami Mbak melakukannya dengan wanita lain..?"
Ratih mengangguk dalam. "Apa boleh buat, Dik! Saya yang salah, ini hukuman bagi saya." ujar Ratih lirih.
Napasnya terdengar sangat berat. "Saya rela, ikhlas! Bahkan saya akan sangat berterima kasih jika Dik Lisa bersedia menolong saya." lanjutnya sambil menatap Lisa dengan wajah memelas, penuh pengharapan. Digenggamnya tangan Lisa untuk menegaskan keseriusan ucapannya ini.

Lisa memandang dengan tajam. Pandangannya seakan-akan menembus hingga ke dalam jiwa Ratih, mencari kepastian akan kebenaran pernyataan wanita di hadapannya. Suasana begitu hening.
"Yah.., sebagaimana yang tentunya sudah Mbak duga, memang saya biasa melakukannya. Tapi belum pernah dengan sepengetahuan, apalagi diminta oleh istrinya seperti Mbak ini." kata Lisa memecah keheningan.
"Hmm.., lalu, kalau saya bersedia, apa untungnya bagi saya?"
"Yah.., setidaknya saya tidak perlu melakukannya secara sembunyi-sembunyi." sahut Lisa sambil mengangkat bahu.

Secercah senyum mulai menghias wajah Ratih.
"Terima kasih, Dik!" genggaman Ratih semakin keras.
"Mmm.., saya sangat berterima kasih atas kesediaan Dik Lisa. Untuk itu.., mm, tentu saja saya akan memberikan imbalan yang pantas."

Mereka mulai membicarakan imbalan yang dianggap pantas untuk jasa yang akan diberikan Lisa. Semula Ratih menawarkan lima ratus ribu rupiah. Namun pada akhirnya mereka mencapai kesepakatan pada harga Rp 1.000.000,-. Sebagai jaminan atas keselamatan dirinya, Lisa meminta Ratih untuk menyerahkan KTP-nya, yang akan dikembalikan setelah acara selesai beserta pembayarannya. KTP itu lalu dimasukkan ke dalam sebuah amplop putih, dilem, dan lalu ditandangani oleh Ratih pada bagian persambungan lipatan penutupnya. Selanjutnya Lisa menitipkannya pada Alex, temannya yang kebetulan menjadi bartender di NightClub situ.

Mereka sepakat, bahwa jika hingga Minggu malam Lisa tidak datang mengambil amplop itu bersama Ratih, maka Alex harus segera melaporkan hilangnya Lisa kepada polisi sambil membawa amplop berisi KTP tersebut. Alex tidak boleh membukanya hingga Senin. Jika Ratih menemukan bahwa amplop itu sudah rusak karena pernah dibuka, maka pembayaran batal. Ini adalah syarat yang diminta Ratih agar privacynya juga terjaga. Ketika pada akhirnya mereka berangkat meninggalkan tempat tersebut, waktu sudah menunjukkan pukul 20.15.

Di tengah jalan Ratih menghentikan sejenak kendaraannya.
"Maaf Dik, saya harus menutup mata Adik. Maaf, suami saya ingin memastikan bahwa nanti setelah selesai, tidak akan ada masalah di kemudian hari." katanya sambil mengeluarkan saputangan.
Lisa dapat memaklumi permintaan tersebut. Mereka kembali melanjutkan perjalanan setelah Ratih membalutkan saputangannya menutupi mata Lisa.

Bersambung . . . ..


Kisah Perbudakan Ratih - 4

0 comments

Temukan kami di Facebook
UJI KELAYAKAN

Sementara itu di rumah, Surya sudah gelisah menanti kepulangan istrinya.

"Sial! Mengapa mereka belum muncul?" pikirnya bertanya-tanya.
Terbersit kekhawatiran bahwa Ratih mengingkari kesepakatan yang telah mereka buat, namun segera ditepisnya.
"Tidak mungkin! Dia pasti kembali! Mungkin sebentar lagi..," pikirannya mengembara menyusun skenario.
"Hmm.." Surya tersenyum sambil mulai mengumpulkan gulungan tali, rantai, pemukul nyamuk, dan rantai anjing di tengah ruangan tamu.
"Lihat saja nanti.., kamu pasti akan sangat menderita!" pikirnya dengan penuh rasa kemenangan.
"Dia tentu tak pernah menyangka apa yang akan diterimanya!"

Tiba-tiba lamunannya buyar. Terdengar suara mobil memasuki halaman. Bergegas dia mendekati jendela dan mengarahkan pandangan ke halaman. Wajahnya menyeringai tatkala mengetahui betapa yang dinantikannya telah tiba. Diawasinya terus mobil itu hingga berhenti. Terlihat Ratih keluar dari balik kemudi, berputar ke pintu sebelah, lalu menuntun turun seorang wanita yang memakai pembalut mata. Dibimbingnya wanita itu menuju ke arah pintu, dan.., kini kedua wanita itu hadir di hadapan Surya.

"Ini, Mas.." Ratih menyapa suaminya.
"Hmm.." dengus Surya dingin, lalu melanjutkan, "Tutup pintunya, buka penutup matanya!"
Perintah dilaksanakan. Dengan tegas Surya mengarahkan telunjuknya ke arah lantai di depan kaki Ratih. Wanita itu mengerti dan segera menjatuhkan diri bersimpuh di tempat yang ditunjuk itu. Lisa mengerutkan kening, heran atas suasana yang dihadapinya.
"Baguuss..!" puji Surya, "Kamu cepat belajar untuk mengerti posisimu."
Pria itu menyeringai penuh kepuasan. Hening beberapa saat.

"Namanya Lisa, 23 tahun. Hmm.., saya harap Mas suka." katanya menjelaskan.
Surya mengamati gadis itu sambil mengangguk-angguk. "Cantik juga!" pikirnya. Pandangannya sempat terhenti beberapa saat pada kedua gundukan bukit yang mendesak di balik T-Shirt-nya. Wanita yang bernama Lisa ini memang tampak cantik. Kulitnya halus dan agak putih. Tinggi, langsing, dan montok.

Surya memerintahkan dia maju mendekat, lalu dia memutar jari telunjuknya membentuk lingkaran, yang segera dituruti Lisa dengan bergerak berputar, bagaikan peragawati yang sedang memamerkan busananya. Surya kembali mengangguk-angguk dan tersenyum puas.
"Hmm.., baiklah! Kita coba pilihanmu ini!" ujarnya sambil melangkah ke arah sudut dan lalu duduk berayun-ayun di kursi malas.

"Jadi nama kamu Lisa, ya..?" tanyanya ramah. Wanita itu tersenyum dan mengangguk pelan.
"Lisa.., hmm.., saya Surya. Sudah tahu tujuanmu ke sini?" pancingnya.
Lisa tampak agak ragu sejenak. "Mmm.., tentunya untuk menghiburmu. Tapi.., hmm.., bagaimana..? Lagi pula, kan ada dia." jawabnya ragu sambil mengarahkan dagunya ke arah Ratih.
"Baiklah, saya jelaskan." jawab Surya.
"Dia memang harus ada di sini?"
Lisa tampak tertegun, kemudian mengalihkan pandangannya kembali kepada Surya.
Surya pun melanjutkan, "Begitu juga kamu. Kita bertiga akan melakukan sebuah permainan!"
Lisa tampak semakin tidak mengerti.

"Dia itu, Ratih, wanita yang telah kukawini selama sepuluh tahun. Namun kini dia tak lebih hanya sebagai budakku, setelah penyelewengan yang dilakukannya!" lanjutnya dengan emosional. "Pengkhianatan harus mendapat ganjaran yang setimpal, bukan? Tapi aku perlu bantuan seorang wanita, sebab tentunya hanya wanitalah yang paling paham bagaimana cara menyakiti wanita lainnya. Untuk itu dia kupersilahkan memilihkannya bagiku. Dan ternyata..? Dia telah memilihmu! Hmm.., jadi bagaimana.., apakah kamu bersedia?"
"Mas..!" protes Ratih terperanjat, namun segera dihardik oleh Surya.
"Diam! Kamu tidak punya hak bersuara, mengerti?"
Ratih mengangguk lemah dan kembali menundukkan wajahnya. Lisa kembali memandangi wanita yang membawanya tadi itu.

"Bersedia tidak anda membantuku?" tanya Surya kembali. "Saya sudah menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Lihat itu?" tunjuknya pada perlengkapan yang telah terkumpul di tengah ruangan tadi. "Semuanya sudah tersedia! Hmm.., Bagaimana?"
Tampaknya Lisa mulai mengerti, namun keraguan masih terlihat di wajahnya.
"Tidak usah takut, ini semua sudah atas kesediaannya, sebagai bukti penyesalannya padaku!" ucap Surya. "Benar begitu, Ratih?" tanyanya sambil beranjak berdiri.
"I-i-iya, Mas." jawabnya terbata-bata.
"Tuan! Mulai sekarang kamu hanya boleh memanggilku Tu-an, mengerti?" potong Surya sambil memberikan tekanan pada kata "tuan".
"Iya, Ma.., eh, Tuan!"
"Hmm.., bagus begitu! Nah, Lisa.., bagaimana, mau tidak memiliki budak? Ha, ha, ha.."

"Mas.., aku memang salah, untuk itu aku rela menjadi budakmu. Kamu boleh berbuat apa saja padaku, tapi jangan jadikan aku juga menjadi budak orang lain. Huu, huu.." tangis Ratih mengiringi protesnya.
Dia mulai paham tujuan Surya menyuruhnya mencarikan wanita lain, ternyata untuk turut serta menyiksanya. Dia tidak terima dihina oleh orang lain. Sedangkan oleh suaminya saja, dia sudah memaksakan diri menekan penolakan batinnya, dan bisa, walaupun pahit. Namun oleh orang lain? Ratih berusaha sekuat tenaga untuk tidak membuat murka suaminya. Lisa memandanginya sejenak, lalu beralih ke Surya, dan kembali lagi memandang Ratih.

"Sial! Maass..? Tuan! Kurang ajar! Berani kamu membantah kemauanku, Budak?" bentak Surya berapi-api sambil melangkah mendekati Ratih.
Tangannya sudah diangkat ke udara, siap untuk diayunkan. Sementara itu Lisa bergerak menyingkir menjauhi mereka berdua.
"Ampunn Tuan! Ampuunn..!" Ratih menjatuhkan wajahnya ke lantai sambil memohon ampun.
Langkah Surya terhenti. Sambil mendengus, dihempaskannya tangannya ke samping tubuhnya. Hening sesaat. Surya mengepalkan tangan menahan kekesalan hatinya.
"Huh!" dia menarik napas panjang, sebelum akhirnya melanjutkan, "Baiklah.., ini untuk yang terakhir!"

Ruangan kembali hening. Perlahan Lisa kembali ke tempatnya semula.
Kemudian, "He budak," lanjut Surya, "Sepertinya wanita pilihanmu ini masih ragu untuk menerimamu sebagai budak. Lebih baik kau bujuk dia agar bersedia menjadi NYONYA-mu. Atau kau memang sudah tidak berguna? Kalau begitu lebih baik kau kujual saja pada seorang germo!"
Ratih sungguh ketakutan. "Jangan Mas, Tuan, jangan Tuan, jangan jual saya.., huu, huu, huu." dia menangis tersedu-sedu sambil membentur-benturkan kepalanya ke lantai.

"Nasibmu tergantung pada wanita itu! Kalau dia bersedia menerimamu sebagai budaknya, kau tetap di sini, tapi kalau tidak? Terpaksa..,"
"Huu.., am-pun.., Lis, tolong aku, Lis! Tolong.., terima aku jadi budakmu.. Aku janji akan melakukan apa saja perintahmu. Benar Liss.., janjii..!"
Ratih maju memeluk kaki Lisa. Surya tersenyum menyaksikan adegan tersebut. Inilah yang ditunggu-tunggunya. Kebenciannya yang mendalam mulai terobati. Dia yakin betapa Ratih sangat tersiksa melakukannya, dan itulah yang memuaskan dendamnya.

"Apa-apaan sih..? Huh!" dengus Lisa sambil menarik kakinya, namun Ratih tetap berusaha mempertahankannya, sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan terhuyung hampir jatuh.
Dengan reflek Surya melompat ke arahnya, namun Lisa sudah lebih dahulu jatuh terduduk.
"Aduh! Kurang ajar!" bentaknya penuh marah.
Dia segera bangkit berdiri dan menendangkan kakinya ke arah Ratih. BUK! Sepatu Lisa menghantam bahu Ratih. Ratih menjerit kesakitan. Sambil meringis dia segera beringsut mundur, "Ampun.., aduh, ampunn Lisa..!"

"Nyonya!" bentak Surya mengingatkan.
"Iya.., ampun Nyonya..! Saya tidak sengaja.., ampuunn..!"
"Kamu sudah membuatku jatuh, Lonte sialan! Kamu memang harus dihukum!" Lisa memburu Ratih sambil melayangkan sebuah tamparan, "PAR!" Ratih terjerembab ke lantai.
"Ha.. ha.. ha..! Bagus, baguuss, teruskan..!" Surya memberi semangat pada Lisa yang terus mengayunkan tangannya ke wajah Ratih.
"Berarti kamu sudah setuju, Lis?" teriaknya kesenangan sambil bertepuk tangan, "Kalau begitu langsung dimulai saja, ha.. ha.. ha..! Ayo.., lakukan sesuka hatimu! Ingat, dia sekarang budakmu! Ha, ha, ha..!"

Mendengar itu Lisa malah menghentikan aksinya dan menatap Surya dengan tersenyum.
"Budakku? Hah, hah, hah..! Aku belum memutuskan untuk menerimanya!" sanggahnya. "Setidaknya aku perlu tahu terlebih dahulu manfaatnya bagiku! Boleh aku memeriksa calon budakku ini?"
"Tentu saja!" sambut Surya. "Silakan.., periksa sendiri baik-baik, apakah dia cukup layak kau pelihara!"

Lisa mengarahkan pandangannya kepada Ratih, "Copot pakaianmu! Semuanya, cepat! Aku ingin lihat apakah kau cukup berharga untuk menjadi budakku!"
Ratih membelalakkan mata tidak percaya, dia harus telanjang di hadapan seorang pelacur. Tapi dia segera teringat akan ancaman Surya yang akan menjualnya kepada germo jika dia menolak perintah pelacur itu. Kalau sampai itu terjadi, maka dia pun akan segera menyandang predikat yang sama, bahkan mungkin lebih hina, menjadi pelacur jalanan.

Terbayang kemungkinan betapa dia bisa saja diperkosa oleh para berandalan. Belum lagi kalau rekaman pengakuannya disebarkan. Dia tidak akan kuat menghadapinya. Baru membayangkan saja sudah membuat tubuhnya menggigil ketakutan. Maka sambil menggigit bibir menahan tangis, dia bangkit untuk melaksanakannya. Dia tidak kuasa memandang siapa pun di ruangan itu. Sambil tertunduk layu, digerakkannya kedua tangannya ke belakang punggung, menarik resleting, dan kemudian mengangkat gaun yang dikenakannya melewati kepala.

Gemuruh tawa mengiringi setiap gerakannya. Semua mata di ruangan itu mengamatinya dengan seksama. Mereka menyeringai menyaksikan sepasang gunung kembar yang terbungkus dengan BH hitam yang berhiaskan renda dan kilauan berlian itu. Mata Lisa membelalak ketika menatap tulisan pada badan Ratih.
"Oh, hmm.." dia tersenyum, "Memang benar, kamu cocok sekali jadi lonte, ha, ha, ha.."

Ratih menguatkan diri menahan cemoohan itu. Dia melanjutkan dengan roknya, dan tawa Lisa meledak ketika melihat celana dalam yang dikenakannya.
"Ha, ha, ha.., punya siapa, tuh..?"
Surya pun ikut tertawa, "Ha, ha, ha.., punyaku! Yang sudah bekas pakai, lagi."
Lisa semakin cekikikan mendengar jawaban Surya itu.

Sementara Ratih berdiri mematung di tempatnya menerima cemoohan mereka dengan pasrah. Gaun dan rok yang tadi dikenakan sekarang berceceran di lantai di dekat kakinya. Namun ternyata itu belum cukup.
Setelah reda dari tawanya, Lisa kembali membentaknya, "Lho, mengapa berhenti? Teruskan! Semuanya!"
Tubuh Ratih bergetar keras. Pergolakan di hatinya semakin dahsyat. Menyadari tidak punya pilihan, dia pun melaksakannya. Kini seluruh permukaan kulitnya tampak dengan jelas.

"Ck.. ck.. ck..! Wah ada lagi, apa tuh..? Ooohh.., jadi kamu lonte milik Surya, ya..?" decak Lisa mencemooh.
Tersadar akan ketelanjangannya, Ratih segera menelungkupkan kedua telapak tangannya, satu ke dada, dan satu ke vagina. Namun gerakannya terhenti oleh bentakan Lisa, "Eh, eh, eh.. jangan! Biarkan semuanya terbuka. Kau kan tahu, aku ingin memeriksamu? Jadi jangan coba-coba menutupi apa pun, mengerti!"
Ratih mengangguk pelan. Tanpa disadarinya air matanya mulai meleleh membentuk anak sungai di kedua pipinya. Namun mereka tidak memperdulikan hal itu. Lisa bergerak maju mendekati Ratih.

"Buka!" bentak Lisa sambil mengarahkan tangannya ke arah selangkangannya.
Ratih menuruti dengan merentangkan kedua kakinya. Lisa terus menepuk paha dalam Ratih sehingga dia terpaksa terus merenggangkan kakinya, hingga pada posisi mengangkang lebar. Ratih tidak kuasa lagi membendung rasa terhinanya. Dia sadar betapa kini sedang memamerkan organ kewanitaannya yang paling rahasia. Lisa mengelus-elus daerah di sekitar bibir vagina, kemudian memasukkan beberapa jari ke dalamnya, mencoba menyodok-nyodok gua itu. Pinggul Ratih terdorong ke belakang setiap kali Lisa menyodokkan jemarinya, namun selalu kembali maju tertarik oleh rengutan Lisa pada bibir vaginanya.

Lisa menganggukkan kepalanya beberapa kali, kemudian melepaskan tangannya untuk berganti meremas payudara Ratih sebelah kiri. Diremas-remasnya beberapa saat, kemudian ditariknya puting susu Ratih. Ratih melenguh kesakitan, namun seringai Lisa malah makin lebar. Dia memelintir dan memencet-mencet puting itu seakan sedang memeriksa kekenyalannya. Selesai dengan bagian kiri, dia melanjutkan ke sebelah kanan. Semua itu dilakukan Lisa sambil sesekali menatap wajah Ratih, mengamati ekspresinya.

Setelah dianggap cukup, didorongnya bahu kiri Ratih, sehingga kini berputar membelakanginya. Tangan kirinya mendorong punggung Ratih. Kini wanita itu dalam posisi menungging, dan Lisa kembali melakukan pemeriksaan pada gundukan pinggul serta celah di antara keduanya. Setelah merasa cukup dengan pemeriksaannya, Lisa menyuruh ratih untuk tegak dan berputar kembali menghadapnya. Kini sesuai dengan perintah Lisa, Ratih berdiri menghadap Lisa dengan kaki terkangkang lebar. Kedua tangannya berada di balik punggung, sehingga kedua payudara Ratih tampak kian membusung, bagaikan menantang siapa pun untuk menjamahnya.

"Bagaimana.., cocok..?" tanya Surya melihat Lisa telah mengakhiri pemeriksaannya.
"Hmm.., lumayan..! Dan saya mendapatkan satu juta setelah ini selesai..?"
"Satu juta? Oh, tentu itu harga yang ditawarkannya padamu." ulang Surya manggut-manggut mengerti.
"Hmm.., oke, satu juta untuk malam ini. Anggap ini sebagai percobaan. Nanti, kalau ternyata cocok, bisa kita bicarakan lagi untuk masa-masa selanjutnya, bagaimana?"

Kepala Ratih kian terkulai layu mendengar kata-kata Surya. Dia betul-betul merasa terhina. Suaminya sedang melakukan transaksi dengan sorang pelacur untuk bersedia menerimanya sebagai budak. Dia merasa dipersamakan dengan kambing yang sedang diperdagangkan di pasar hewan. Namun apa daya? Dirinya hanya bisa pasrah.

Lisa menyimak dengan penuh perhatian. Dahinya tampak berkerut-kerut memikirkan tawaran itu.
"Jadi ada kemungkinan bahwa ini bisa berlanjut terus?"
"Ya.., kalau ternyata kita bisa menikmatinya."
Lisa mengamati Surya dan Ratih bergantian. Surya menunggu dengan tidak sabar, dan akhirnya, "Hmm.., mm.., oke! Dibayar untuk menghukum budak yang nakal kedengarannya menyenangkan juga." sahut Lisa sambil tersenyum.
"Nah..! Bagus itu! Jadi kita sudah sepakat, oke?" tanya surya memastikan.
"Oke!" angguk Lisa mengiyakan.
"PLOK! PLOK! PLOK!" Surya bertepuk tangan.

Namun tiba-tiba Lisa bertanya dengan serius, "Tapi aku belum pernah menyiksa, apalagi memelihara budak."
"Ahh.., tenang saja, nanti juga akan terbiasa. Kalau perlu akan saya tunjukkan foto-foto tentang itu dari internet."
Kemudian Surya mengarahkan pandangan tajam ke arah Ratih.
"Budak, kamu harus berterima kasih karena Nyonya Lisa telah bersedia menerimamu. Cepat, ucapkan terima kasih kepada Nyonyamu!"

Ratih tidak punya pilihan lain. Dia segera menjatuhkan diri berlutut, "Terima kasih Nyonya.., terima kasih! Terima kasih!" katanya berulang-ulang sambil mengatupkan kedua telapak tangannya sebagaimana layaknya orang memberikan sembah.
Lisa tersenyum bangga menerima penghormatan dari budaknya. Digapainya Ratih, dan menekan kepalanya ke bawah. Paham dengan maksud Nyonyanya, Ratih menggesek-gesekkan pipinya ke sekitar betis Lisa. Seringai Lisa kian lebar.

"Bagus.., bagus..! Budak baik! Kamu akan setia pada nyonyamu?" tanyanya sambil mengelus rambut Ratih.
"Benar Nyonya, hamba akan setia melayani Nyonya. Hamba akan melaksanakan perintah Nyonya, apa pun!" janji Ratih menyadari posisinya.
Agaknya kini dia sudah mulai lancar mengucapkan kata Nyonya.
"Baguuss..! Nah, sekarang mari kita lihat beberapa foto yang mungkin akan dapat memberimu ide." ajak Surya kepada Lisa.
"Dan kamu, Budak! Tetap di tempatmu sampai kami butuhkan, mengerti?"
Ratih mengangguk dan duduk bersimpuh di tempatnya, menyaksikan kedua orang itu melangkah ke ruang tengah menuju ke meja komputer.

Bersambung . . . . .


 

Rumah Seks Indonesia. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Church by Brian Gardner Converted into Blogger by Bloganol dot com Modified by Axl Torvald